
MAKALAH
MENGENAL KONSEP SEJARAH, KEBUDAYAAN DAN PERADABAN
Untuk
Memenuhi Tugas
MATERI PERADABAN ISLAM
Dosen mata kuliah:
M. ZAINAL ARIFIN M.Pd
DISUSUN
OLEH:
KELOMPOK 1
1.
ANANG ANSHORI NPM
: 171210196
2.
IHSAN AMIR NPM
: 171210
INSTITUT
AGAMA ISLAM MA’ARIF
NU
METROLAMPUNG
TAHUN
2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam sejarah
kebudayaan ummat manusia proses tukar-menukar dan interaksi (intermingling)
atau pinjam meminjam konsep antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain
memang senantiasa terjadi, seperti yang terjadi antara kebudayaan barat dan
peradaban islam. Dalam proses ini selalu terdapat sikap resistensi dan
akseptansi. Namun dalam kondisi dimana suatu kebudayaan itu lebih kuat
dibanding yang lain yang tejadi adalah dominasi yang kuat terhadap yang lemah.
Istilah ibn khaldun, "masyarakat yang ditaklukkan, cenderung meniru budaya
penakluknya".
Ketika
peradaban Islam menjadi sangat kuat dan dominan pada abad pertengahan,
masyarakat eropa cenderung meniru atau "berkiblat ke Islam". Kini
ketika giliran kebudayaan barat yang kuat dan dominan maka proses peniruan itu
juga terjadi. Terbukti sejak kebangkitan barat dan lemahnya kekuasaan politik
islam, para ilmuwan muslim belajar berbagai disiplin ilmu termasuk islam ke
barat dalam rangka meminjam. Hanya saja karena peradaban Islam dalam kondisi
terhegemoni maka kemampuan menfilter konsep-konsep dalam pemikiran dan
kebudayaan barat juga lemah.
BAB I
PEMBAHASAN
MENGENAL KONSEP SEJARAH KEBUDAYAAN DAN PERADABAN
A. KONSEP SEJARAH
Secara konseptual, sejarah pada
dasarnya berkenaan dengan tiga aspek konseptual yang mendasarinya, yaitu konsep
tentang perubahan, konsep waktu dan kontinuitas.
1. Konsep Perubahan
Sejarah dalam hal ini, adalah
perubahan dari suatu keadaan kepada keadaan lain. Meski demikian, hanya
perubahan yang benar-benar memiliki makna penting bagi kehidupan manusia yang
dapat dikategorikan sebagai peristiwa perubahan yang bernilai sejarah. Termasuk
dalam kategori ini diantaranya perubahan rezim kolonial ke
nasional, dari masa khulafaurrasyidin ke dinasti umaiyyah atau
dari sistem musyawarah ke sistem monarkhi.
2. Konsep Waktu
Peristiwa sejarah bukan sesuatu yang
datang tiba-tiba, bukan pula terjadi begitu saja tanpa sebab apapun. Setiap
peristiwa yang terjadi di suatu waktu tertentu pasti ada kaitannya dengan waktu
sebelum dan sesudahnya. Bila dirunut melalui penelaahan sejarah, sangat mungkin
ditemukan keterkaitannya suatu peristiwa dengan situasi atau peristiwa yang
terjadi sebelum dan sesudahnya. Terjadinya suatu peristiwa senantiasa
dikarenakan oleh suatu sebab yang ada dalam alur waktu. Konteks hubungan
sebab-akibat peristiwa yang menjadi akibat dengan peristiwa lain menjadi sebab
adanya dalam dimensi waktu.
3. Konsep Kontinuitas
Kehidupan manusia berada dalam
rangkaian perubahan demi perubahan yang berkesinambungan. Perubahan demi
perubahan tersebut tidak akan berhenti pada suatu titik peristiwa. Dalam
konteks kekinian (postmodern) bahkan diyakini bahwa perubahan telah
menjadi sesuatu yang pasti sebagaimana ungkapan ahli masa depan (futurolog),
“Saat ini yang pasti adalah ketidakpastian dan yang tetap adalah perubahan (the
certain now is uncertain and the constant now is changing) sebagian
perubahan yang terjadi tentunya ada yang bermakna sangat dalam bagi manusia,
tetapi sebagian lagi sangat boleh jadi tidak demikian.{[I]}
B. KONSEP KEBUDAYAAN DAN PERADABAN
Dalam Oxford Current English,
diuraikan bahwa kata kebudayaan semakna dengan culture yang
memilliki pengertian beragam. Pengertian Culture dapat
difahami bahwa kebudayaan adalah pembangunan yang didasarkan pada kekuatan
manusia, baik pembangunan jiwa, pikiran, dan semangat melalui latihan dan
pengalaman, bukti nyata pembangunan intelektual seperti seni dan pengetahuan.
Dalam tulisan Jaih Mubarok, defenisi
kebudayaan diantara yang terbaik sebagaimana dibuat oleh E.B Taylor bahwa,
budaya adalah keseluruhan yang komplek yang meliputi pengetahuan, kepercayaan
seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lain yang diperoleh
manusia sebagai bagian dari masyarakat. Secara singkat, sebagaimana difahami
secara umum, kebudayaan adalah “semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat”.
1. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan
kebendaan (material culture) yang diperlukn oleh manusia untuk menguasai
alam sekitarnya agar hasilnya dapat digunakan untuk keperluan masyarakat.
2. Cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berfikir
orang-orang yang hidup bermasyarakat, antara lain menghasilkan filsafat serta
ilmu pengetahuan.
C. HUBUNGAN KEBUDAYAAN DAN PERADABAN
Pengertian Peradaban Islam, adalah
terjemahan dari kata arab “Al-Hadharah Al-Islamiyyah. Kata arab ini
sering diterjemahkan kedalam bahsa Indonesia dengan kebudayaan Islam.
Kebudayaan dalam bahasa Arab adalah Ats-Tsaqafah. Dalam
perkembangan ilmu antropologi sekarang kedua istilah di Indonesia, juga di arab
dan barat masih banyak yang menyinonimkan dua kata kebudayaan.
1. Kebudayaan (Arab, ats-tsaqafah:
inggris kultur)
Kedua istilah diatas dibedakan bahwa
kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Menurut
Koentjaraningrat, kebudayaan mempunyai 3 wujud yaitu:
1. Wujud Ideal
Yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide,
gagasa, nilai-nilai, norma- norma, peraturan-peraturan dan lain-lain
2. Wujud Kelakuan
Yaitu kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan
berpola dari manusia dalam masyarakat
3. Wujud Benda
Yaitu wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya.
Hubungan antara kebudayaan dan
peradaban dalam study ini, menurut pendapat Oswald Spingler yang dikutip Samuel
P. hungtington bahwa:
1. Kebudayaan adalah untuk menunjukkan upaya manusia yang masih
terus berlanjut, sedangkan peradaban untuk menunjukkan titik akhir dari
kegiatan.
2. Peradaban mengandung pengertian yang labih luas sebagaimana
puncak, spirit keseluruhan, dan bersifat universal, sebagai
karakter umum dari sebuah zaman dan titik akhir dari berbagai proses
kebudayaannya. {[III]}
D. PERIODISASI PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM
Peradaban Islam adalah
landasan historis yang mengkaji tentang keseluruhan kebudayaan
dalam suatu periodisasi sejarah. Periodisasi sejarah sangat berhubungan dengan
konteks ruang dan waktu yang sangat berpengaruh pada hasil karya, ide dan
gagasan di masa yang lalu. Oleh karena itu dikalangan sejarawan terdapat perbedaan
tentang saat dimulainya sejarah islam. Secara umum, perbedaan pendapat tersebut
dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, sebagian sejarawan berpendapat bahwa
sejarah islam dimulai sejak Nabi saw. Diangkat menjadi rasul.
Menurut pendapat ini, selama 13 tahun
Nabi Muhammad saw. tinggal di Mekkah telah lahir masyarakat muslim
meskipun belum berdaulat. Kedua, sebagian sejarawan berpendapat bahwa sejarah
umat islam dimulai sejak nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah karena masyarakat
muslim baru berdaulat ketika nabi Muhammad saw. tinggal di Madinah. Karena
Muhammad saw. yang tinggal di Madinah, tidak hanya sebagai rasul, tetapi
juga merangkap sebagai pemimpin atau kepala Negara berdasarkan konstitusi yang
disebut Piagam Madinah.
Disamping banyaknya perbedaan mengenai
sejarah umat Islam ini, maka para sejarawan juga berbeda dalam menentukan fase
dalam periodisasi Islam ini salah satu contoh.
Menurut Prof. Dr. Harun Nasution
Periodisasi sejarah Islam terbagi pada 3 periode, diantaranya adalah sebagai
berikut:
1. Periode klasik (650 – 1250 M)
Pada periode ini, disebut juga
sebagai masa keemasan di dalam sejarah Islam. Sebagai masa keemasan, masa ini
sering dijadikan tolak ukur dan rujukan keteladanan. Masa Nabi saw. yang
hanya berlangsung kurang lebih 23 tahun.
2. Periode Pertengahan (1250 – 1800 M)
Pada periode pertengahan muncul tiga
kerajaan besar Islam yang mewakili tiga kawasan budaya, yaitu kerajaan usmani
di Turki, kerajaan Safawi di Persia, dan kerajaan mughal di India.
Kerajaan-kerajaan islam yang lain, meski juga ada yang cukup besar, tetapi jauh
lebih lemah dibandingkan dengan tiga kerajaan ini, bahkan berada dalam pengaruh
salah satu diantaranya. Kerajaan Mughal adalah kerajaan yang berdiri seperempat
abad setelah berdirinya Kerajaan Safawi, jadi diantar ketiga kerajaan besar
tersebut kerajaan mughal inilah yang termuda, walaupun kerajaan ini bukanlah
kerajaan Islam yang pertama di anak benua India,
Pada periode pertengahan, pembahasan
yang paling banyak mendapat tempat adalah percaturan politik di pusat Islam dan
peradaban yang dibina oleh dinasti-dinasti yang kebetulan berhasil memegang
hegemoni politik, serta tiga kerajaan besar Islam (Usmani, Safawi, dan Mughal)
dan peradaban yang dibinanya.
3. Periode Modern (1800 – sampai sekarang)
Pada masa ini, telah terbentuk
sistem masyarakat muslim yang bersifat global. Masing-masing dibangun
berdasarkan interaksi antara institusi Negara Islam, keagamaan dan institusi
Komunal Timur Tengah dengan institusi sosial dan kultural setempat, dan setiap
interaksi melahirkan tipe kemasyarakatn Islam yang berbeda-beda. Meskipun
setiap masyarakat bersifat khas (unique), namun diantara mereka terdapat
kemiripan bentuk dan antar mereka dipertalikan oleh beberapa hubungan politik
dan keagamaan dan oleh persamaan nilai-nilai kultural. Dengan demikian mereka membentuk
Islam yang bersifat global (mendunia). {[IV]}
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan makalah
diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Sejarah peradaban Islam diartikan sebagai
perekembangan atau kemajuan kebudayaan islam dalam perspektif sejarahnya. Peradaban
Islam adalah terjemahan dari kata Arab Al-Hadharah
Al-Islamiyyah. Kata dalam bahasa Arab ini sering kita terjemahkan kedalam
bahasa Indonesia dengan kebudayaan Islam.Di Indonesia seringkali disinonimkan
dua kata antara “Kebudayaan dan peradaban.” Namun dalam perkembangan ilmu
Antropologi sekarang, kedua istilah tersebut telah dibedakan.
Kebudayaan adalah bentuk ungkapan
tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan peradaban lebih
berkaitan Manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan
teknologis. Kebudayaan lebih direflesasikan dalam seni, sastra, religi, dan
moral. Sedangkan peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan
teknologi. Periode sejarah peradaban Islam Periode
klasik, Periode petengahan, dan Periode modern.
DAFTAR PUSTAKA
Effat Ash-Sharqawi, Filsafat
Kebudayaan Islam, (Bandung: Penerbit Pustaka, 1986).
Harun Nasution, Pembaharuan
Dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975).
Surya Putra Hikmah, Hubungan
Kebudayaan dan Peradaban Islam, diakses melalui situs: http://suryaputraalhikmah.blogspot.com/2012/03/konsep-kebudayaan-dan-peradaban.html
Ziauddin Sadar, Masa Depan
Peradaban Muslim, terj.H.M. Mochtar Zoerni, cet. 1, (Surabaya: Bina Ilmu,
1985).
[2] Surya
Putra Hikmah, Hubungan Kebudayaan dan Peradaban Islam, diakses
melalui situs: http://suryaputraalhikmah.blogspot.com/2012/03/konsep-kebudayaan-dan-peradaban.html
[4] Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam:
Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), hal. 11-13.

No comments:
Post a Comment