
MAKALAH
Pengembangan Pendidikan Islam Dan Pemberdayaan
Ummat
Untuk Memenuhi
Tugas
Kapita Selekta PAI
Dosen Mata Kuliah: Dr. Siti Makhrusah, M. Pd. I
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 6
ANANG ANSHORI :171210196
INSTITUT AGAMA
ISLAM
MA’ARIF NU METRO LAMPUNG
TAHUN 2018/2019
Puji
dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas selesainya makalah
yang berjudul “ Pengembangan
Pendidikan Islam Dan Pemberdayaan Ummat ”. Kami mengucapkan terima kasih
kepada Ibu. Dr. Siti Makhrusah, M. Pd. I
yang telah membimbing kami agar dapat menyelesaikan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan
pengalaman bagi para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat kami
butuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Seputih
Banyak, 20 Mei 2019
Ttd:
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 3
A.
Latar Belakang............................................................................................................ 3
B.
Rumusan Masalah....................................................................................................... 3
C. Tujuan.......................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................
2.1. pengertian pendidikan islam...................................................................................... 4
2.2. dasar
pendidikan islam.......................................................................................6
2.3. Proses Pemberdayaan Umat.......................................................................................7
BAB III PENUTUP............................................................................................. 12
A. Kesimpulan .................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang Masalah
Pemberdayaan umat merupakan suatu proses yang berusaha meningkatkan
kualitas hidup individu atau sekelompok masyarakat untuk beranjak dari kualitas
kehidupan sebelumnya menuju pada kualitas hidup selanjutnya. Oleh karena
itu pemaknaan pemberdayaan umat mempunyai cakupan yang luas seperti aspek
pendidikan, ekonomi, politik, maupun sosial kebudayaan.
Dalam hubungannya dengan tema di atas, maka secara kuat dipahami bahwa
proses pemberdayaan masyarakat dalam hal ini difokuskan pada aspek pendidikan
terutama Pendidikan Islam. Pendidikan merupakan perkembangan yang terorganisir
dan kelengkapan dari semua potensi manusia, moral, intelektual maupun
jasmani, oleh dan untuk kepribadian individual dan kegunanan masayarakat yang
diarahkan untuk menghimpun semua aktivitas tersebut.
1.2.
Rumusan
Masalah
a.
Apa
pengertian pendidikan Islam?
b.
Apa tujuan
pendidikan dalam Islam?
c.
Bagaimana
proses pemberdayaan umat di Indonesia?
1.3.
Tujuan
Penulisan
Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Kapita Selekta, selain
itu juga untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang pendidikan Islam
dalam kaitannya dengan pemberdayaan umat.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1.
Pengertian
Pendidikan Islam
Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-terbiyah,
al-ta’dibdan al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut term yang
populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam adalah term al-tarbiyah.
Sedangkan term al-ta’dib al-ta’lim jarang digunakan. Padahal
kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam.
a) Istilah
al-Tarbiyah
Penggunaan istilah al-Tarbiyahberasal dari kata rabb.
Walaupun kata ini memiliki banyak arti akan tetapi pengertian dasarnya
menunjukan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga
kelestarian atau eksistensinya.
Dalam penjelasan lain, kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata,
yaitu : Pertama, rabba-yarbu yang berarti bertambah, tumbuh dan
berkembang (Q.S. Ar Ruum / 30:39). Kedua, rabiya-yarba yang berarti
menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai
urusan, menuntun dan memelihara[]
Kata rabbsebagaimana yang terdapat dalam Q.S. Al-Fatihah 1:2 (alhamdu
lil Allahi rabb al-alamin) mempunyai kandungan makna yang berkonotasi
dengan istilah al-Tarbiyah. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi
(pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah
adalah pendidik yang Maha Agung bagi seluruh alam semesta[].
b) Istilah
al-Ta’lim
Istilah al-Ta’limtelah digunakan sejak periode awal pelaksanaan
pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata ini lebih universal dibanding dengan al-Tarbiyah
maupun al-ta’dib. Al-Ta’lim dapat di artikan sebagai proses
transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan
ketentuan tertentu. Argumentasinya didasarkan dengan merujuk pada firman Allah;
Artinya: “Sebagaimana (Kami Telah
menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul
diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu
dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu
apa yang belum kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah :151).
Kalimat wa yu’allimuhum al-kitab wa al-hikmah dalam ayat tersebut
menjelaskan tentang aktivitas Rasulullah mengajarkan tilawat al-Qur’an kepada
kaum muslimin. Menurut Abdul Fatah Jalal, apa yang dilakukan Rasul bukan
hanya sekedar membuat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin
kepada nilai pendidikan tazkiyah an-nafs (penyucian diri) dari segala
kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikamah serta mempelajari
segala yang bermanfaat untuk diketahui. Oleh karena itu, makna al-ta’limtidak
hanya terbatas pada pengetahuan yang lahiriyah akan tetapi mencangkup
pengetahuan teoritis, mengulang secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang
dibutuhkan dalam kehidupan; perintah untuk melaksanakan pengetahuan dan pedoman
untuk berperilaku[].
c) Istilah
al-Ta’dib
Menurut Al-Atas, istilah yang paling tepat untuk menunjukan pendidikan
Islam adalah al-ta’dib[].
Al-Ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur
ditanamka kedalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat
dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini,
pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing kearah pengenalan dan pengakuan
tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.
Dengan demikian istilah al-Ta’dibmerupakan term yang paling tepat
dalam khazanah bahasa Arab karena mengandung arti ilmu, kearifan, keadilan,
kebijaksanaan, pengajaran dan pengasuhan yang baik sehingga makna al-Tarbiyah
dan al-Ta’lim sudah tercakup dalam term al-Ta’dib.
Terlepas
dari perdebatan makna dari ketiga term diatas secara terminology, para ahli
pendidikan Islam memberikan batasan yang sangat bervariatif. Diantaranya
adalah:
1)
Al-Syaibaniy;
mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku
individu peserta didik pada kehidupan pribadi, umat dan alam sekitarnya. Proses
tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu
aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi dalam umat[].
2)
Ahmad D.
Marimba; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pemimpin
secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta
didik enuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil)[].
3)
Ahmad
Tafsir; mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan
oeleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam[].
Dari batasan
diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang
memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai
dengan ideologi Islam. Melalui pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah
membentuk kehidupan dirinya sendiri sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang
diyakininya.
2.2.
Dasar
Pendidikan dalam Islam
Sebagai aktivitas
yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam
memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan
memeberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam
konteks ini, dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan
sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang menghantarkan peserta didik kearah
pencapaian pendidikan. Oleh karena itu, dasar yang terpenting dari pendidikan
Islam adalah Al-Qur’an dan hadist (Sunnah Rasulullah).
Dalam
pendidikan Islam, Sunah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu :
a) Menjelaskan
system pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan menjelaskan hal-hal
yang tidak terdapat didalamnya.
b) Menyimpulkan
metode pendidikan dari kehidupan Rasullullah bersama sahabat.
Secara lebih
luas, dasar pendidikan Islam terdiri dari 6 macam, yaitu; Al-Qur’an,
sunnah,qaul al-shahabat, masail al mursalah.’urf, dan pemikiran hasil ijtihad
intelektual Islam.
2.3.
Proses
Pemberdayaan Umat
Dengan
melihat kondisi pendidikan pada umumnya dan pendidikan Islam sekarang ini
khususnya, bangsa kita Indonesia akan menghadapi masalah besar, yaitu karena
anak-anak didik telah menyampingkan urusan moral. Untuk suatu jangka
panjangnya, masalah ini akan memberikan pengaruh besar pada sisi manusiawi umat
dan bangsa yaitu hilangnya rasa persaudaraan, yang telah begitu membantu dalam
membangun peradaban manusia yang saling tolong menolong[].
Manusia
diciptakan oleh Allah SWT dalam rangka menjadi khalifah dimuka bumi,hal ini
banyak dicantumkan dalam al-Qur’an dengan maksud agar manusia dengankekuatan
yang dimilikinya mampu membangun dan memakmurkan bumi serta melestarikannya.
Untuk mencapai derajat khalifah di buka bumi ini diperlukan proses
yang panjang, dalam Islam upaya tersebut ditandai dengan pendidikan yang
dimulai sejak buaian sampai ke liang lahat.
Pendidikan
Islam memadukan dua segi kepentingan manusia yaitu keduniaan dan keagamaan.
Berbeda dengan pendidikan sekuler yang hanya meninjau pada satu aspek saja,
yaitu keduniaan saja dan segala bentuk keberhasilan cenderung dinyatakan dengan
jumlah materi yang dimiliki atau jabatan serta pengaruh ditempat individu
berada. Akibatnya telah dapat dilihat bahwa kehampaan yang terjadi pada umat
Eropa dan Amerika adalah kehampaan spiritual yang sebagai
tempat pelariannya ke tempat-tempat hiburan, alcoholism dan bentuk
lainnya. Dengan demikian kemajuan pada satu aspek saja dalam kehidupan ini
menyebabkan ketimpangan dalam perjalanan hidup manusia yang kemudian akan
kembali menjadi permasalahan kemanusiaan khususnya sumber daya manusia.
Dalam Islam
sosok manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu lahiriah sebagai
tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh. Pembangunan manusia
dalam Islam tentunya harus memperhatikan kedua potensi ini. Jika dilihat dari
tujuan pembangunan manusia Indonesia yaitu menjadikan manusia seutuhnya,
maka tujuan tersebut harus memperhatikan kedua potensi yang ada pada manusia.
Namun upaya kearah penyeimbangan pembangunan kedua potensi tersebut selama
32 tahun masa orde baruhanya dalam bentuk konsep saja tanpa upaya aplikasi yang
sebenarnya. Telah dimaklumi bahwa pendidikan Islam memandang tinggi masalah SDM
ini khususnya yang berkaitan dengan akhlak (sikap, pribadi, etika dan moral).
Kualitas SDM
menyangkut banyak aspek, yaitu aspek sikap mental, perilaku,
aspek kemampuan, aspek intelegensi, aspek agama, aspek hukum, aspek
kesehatan dan sebagainya[].
Ke semua aspek ini merupakan dua potensi yang masing-masing dimiliki oleh tiap
individu, yaitu jasmaniah dan ruhaniah. Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek
jasmaniah selalu ditentukan oleh ruhaniah yang bertindak sebagai pendorongdari
dalam diri manusia. Untuk mencapai SDM berkualitas, usaha yang paling utama
sebenarnya adalah memperbaiki potensi dari dalam manusia itu sendiri, hal ini
dapat diambil contoh seperti kepatuhan umat terhadap hukum ditentukan oleh
aspek ruhaniyah ini. Dalam hal ini pendidikan Islam memiliki peran utama
untuk mewujudkannya.
Peningkatan
kualitas manusia hanya dapat dilakukan dengan perbaikan pendidikan[]menyatakan
ada beberapa ciri umat atau manusia yang berkualitas, yaitu :
1.
Beriman dan
bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia dan berkepribadian.
2.
Berdisiplin,
bekerja keras, tangguh dan bertanggung jawab.
3.
Mandiri,
cerdas dan terampil.
4.
Sehat
jasmani dan rohani.
5.
Cinta tanah
air, tebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial.
Generasi yang berkualitas yang akan disiapkan untuk menyongsong dan
menjadi pelaku pembangunan pada era globalisasi dituntut untuk
meningkatkan kualitas keberagamaannya (dalam memahami, menghayati, dan
mengamalkan agama yang tetap bertumpu pada iman dan aqidah).
Untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang berkualitas,
ditetapkan langkah-langkah dalam pembinaan pendidikan agama yaitu :
1.
Meningkatkan
dan menyelaraskan pembinaan perguruan agama dengan perguruan umum dari tingkat
dasar sampai perguruan tinggi sehingga perguruan agama berperan aktif bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2.
Pendidikan
agama pada perguruan umum dari tingkat dasar sampai dengan perguruan
tinggi akan lebih dimantapkan agar peserta didik menjadi manusia
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME serta pendidikan agama berperan
aktif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3.
Pendidikan
tinggi agama serta lembaga yang menghasilkan tenaga ilmuan dan ahli dibidang
agama akan lebih dikembangkan agar lebih berperan dalam pengembangan
pikiran-pikiran ilmiah dalam rangka memahami dan menghayatiserta mampu
menterjemahkan ajaran-ajaran agama sesuai dan selaras dengan kehidupan umat[].
Sementara
itu, dalam upaya pemberdayaan potensi umat dapat diklasifikasikan pada tiga
arah :
1.
Upaya
pemberdayaan potensi umat harus dimulai dari pemberdayaan pendidikankeluarga.
Konsep “Brain development ” menjelaskan bahwa system penserabutan
otak manusia sangat ditentukan oleh kontak manusia pada tiga tahun pertama
kehidupannyadi bumi. Semakin banyak gejala alam yang dapat ditangkap anak pada
tiga tahun pertama usia mereka, maka akan merangsang pertumbuhan sistem
serabut-serabut otak,yang berarti akan berdampak tingginya kecerdasan anak di
masa mendatang. Olehkarena itu pemberdayaan potensi ummat harus dilakukan sejak
awal kelahiran. Selainitu, orang tua harus bertanggungjawab terhadap perilaku
gizi yang proposional, dan juga mengkondisikan agar anak mengalami proses
perkembangan secara proporsional.
2.
Institusi
pendidikan merupakan arah pemberdayaan potensi umat yang selanjutnyasetelah
keluarga. Menjadi tanggung jawab pihak sekolah dalam hal pertumbuhan
anak selanjutnya baik fisik, kecerdasan intelektual, kreativitas dan
perkembangan kecerdasanemosional, bahkan tumbuhnya kecerdasan spiritual secara
optimal. Padahal pendidikankita belum mampu melaksanakan tugas ini. Untuk
itulah sudah saatnya institusiPendidikan melakukan berbagai upaya inovasi dengan
landasan bahwa pemberdayaan potensi umat perlu memperkecil peran tumbuhnya
cara berpikir linier (yang masihmenjadi tekanan pendidikan sekarang), mengapa
demikian karena sesunguhnya bumidan seisinya selalu mengalami
perubahan-perubahan yang begitu cepat yang selalutidak linier, begitu juga
seharusnya konsep pendidikan Islam. Berarti untuk pemberdayaan
potensi umat harus selalu diarahkan kepada berkembangnya kreativitasumat. Agar
maksud ini bisa dicapai maka kemampuan ketrampilan dan seni harus menjadi bagian
integral dari kurikulum pendidikan. Menurut penulis, instistusi Pendidikan
Islam sudah saatnya melakukan upaya-upaya inovasi dalam bidang pendidikan,
bukan secara tambal sulam melainkan secara menyeluruh dan mendasar.Kita
membutuhkan satu revolusi di bidang pendidikan, dan menggeser serta
mengubah paradigma yang keliru. Paradigma yang keliru dan mendasar sekali
adalah selama ini bahwa “ belajar untuk sekolah bukan untuk hidup”, harus
dirubah dengan “belajar bukan untuk sekolah (non scholae) tetapi belajar
untuk hidup (sed vitae discimus)”. Kurikulum di sekolah harus mempunyai
hubungan yang erat dengan kehidupan diumat dengan demikian peserta didik akan
lebih memahami kondisi umat.Sekolah janganlah terisolasi dari umat, apa yang
dipelajari hendaknya berguna bagi kehidupan peserta didik dalam umat dan
didasarkan atas masalah masyarakat. Dengan demikian peserta didik akan lebih
serasi dipersiapkan sebagai warga masyarakat[].
3.
Arah
pemberdayaan selanjutnya adalah di umat dengan cara meningkatkanrasa
tanggungjawab terhadap terwujudnya bangsayang memiliki peradaban dan moral
tinggi. Hubungannya dengan proses pendidikan selama ini sikap umat belum atau
tidak kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak sekolah.
Umat mengikuti apa saja yang ditentukan sekolah, tanpa mempertanyakan secara
kritis apa manfaat dari semuanya itu, ditinjau dari pencapaian tujuan
pendidikan. Sekolah menentukan kurikulum dan silabus, sekolah menentukan
metode pembelajaran, sekolah menentukan ulangan, ujian, kelulusan sampai
dengan pakaian bahkan sepatu seragam sekolah, ini adalah beberapa contoh
yang seharusnya umat ikut andil dan bertanggungjawab terhadap keberhasilan
pencapaian tujuan pendidikan. Disinilah sebenarnya letak pemberdayaan
masing-masing potensi umat (keluarga, sekolah, dan masyarakat) untuk
bersama-sama mengkompromikan bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang akan
diterapkan.
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta
didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Melalui
pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sendiri
sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang diyakininya.
Dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai
kebenaran dan kekuatan yang menghantarkan peserta didik kearah pencapaian
pendidikan. Oleh karena itu, dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah
Al-Qur’an dan hadist (Sunnah Rasulullah).
Dalam Islam sosok manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu
lahiriah sebagai tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh.
Pembangunan manusia dalam Islam tentunya harus memperhatikan kedua potensi ini.
Jika dilihat dari tujuan pembangunan manusia Indonesia yaitu menjadikan
manusia seutuhnya, maka tujuan tersebut harus memperhatikan kedua potensi yang
ada pada manusia.
3.2.
Saran
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak dapat mewakili secara keseluruhan
dari permasalahan pendidikan Islam dalam proses pemberdayaan umat. Untuk itu,
bagi yang ingin lebih memahami tentang permasalahan yang telah kami uraikan di
atas, kami sarankan untuk mencari sumber-sumber lain sebagai referensi tambahan
selain dari yang telah kami paparkan dalam makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
al-Attas,
Muhammad Nuquib. 1994. Konsep Pendidikan Islam (Terj. Haidar Bagir).
Bandung : Mizan
Al-Syaibani,
Omar Muhammad Al-Thoumy. 1979. Falasafah Pendidikan Islam.
Jakarta: Bulan Bintang.
An-Nahlawi,
Abdurrahman. 1992. Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam. Bandung
: CV. Diponegoro.
Djaafar.
2001. Pendidikan Non Formal Dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Dalam
Pembangunan. Padang : Penerbit FIP UNP.
Djohar.
2003. Pendidikan Strategig Alternatif Untuk Masa Depan. Yogyakarta:
Lesfi.
Jalal, Abdul
Fatah. 1988. Azaz-azaz Pendidikan Islam (Terj. Harry Noer Ali). Bandung:
CV. Diponegoro.
Marimba,
Ahmad D. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.
Nasution, S.
2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Shaleh, A.
R. 2000. Pendidikan Agama dan Keagamaan : Visi, Misi dan Aksi. Jakarta:
Gemawindu Pancaperkasa.
Tafsir,
Ahmad. 1992. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
.Abdurrahman
An-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung : CV.
Diponegoro,1992), hlm. 31
Omar
Muhammad Al-Thoumy Al-Syaibani, Falasafah Pendidikan Islam,
(Jakarta: Bulan Bintang,1979), hlm. 41
Abdul Fatah Jalal, Azaz-azaz
Pendidikan Islam,Terj. Harry Noer Ali, (Bandung: CV. Diponegoro, 1988), h.
29-30
Muhammad Nuquib al-Attas, Konsep
Pendidikan Islam, Terj. Haidar Bagir, (Bandung : Mizan, 1994), hlm. 60
[Omar Muhammad Al-Syaibaniy, Op.Cit, hlm. 399
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat
Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif 1989), hlm. 19
Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam
Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 32
Djohar, Pendidikan Strategig Alternatif
Untuk Masa Depan, (Yogyakarta: Lesfi, 2003), hlm. 41
Djaafar, T. Z., Pendidikan Non Formal Dan
Peningkatan Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan, (Padang : Penerbit
FIP UNP, 2001), hlm. 2
A. R . Shaleh, Pendidikan Agama dan
Keagamaan : Visi, Misi dan Aksi. (Jakarta: Gemawindu Pancaperkasa, 2000),
hlm. 205
Nasution, S, Sosiologi Pendidikan,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 154