BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Masalah yang menjadi kegagalan
pendidikan hari ini adalah kecenderungan manusia yang melihat pendidikan
sebagai tujuan dunia seperti jabatan, pekerjaan, pangkat, dll. Yang umumnya
berorientasi dunia. Pengembangan pendidikan islam berkaitan secara langsung dengan
ilmu pengetahuan dan metodologi dan perkembangannya.
Pendidikan islam adalah pendidikan
yang sengaja didirikan dan diselenggarakan dengan hasrat dan niat (rencana yang
sungguh-sungguh) untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai islam,
sebagaimana tertuang atau terkandung dalam visi, misi , tujuan, progam kegiatan
maupun pada praktek pelaksanaan kependidikannya. Wawasan kependidikan islam
dimaksudkan sebagai suatu konsep atau cara pandang pengembang, pengelola dan
pelaksana pendidikan dalam mengembangkan dan menyelenggarakan progam dan
praktek pendidikan islam dilapangan dengan memperhatikan landasan filosofis ,
historis dan konteks social budaya, serta perkembangan peserta didik itu
sendiri untuk mencapai tujuan pendidikan islam. Para calo sarjana pendidikan
islam dituntut untuk memilki dan mengeuasai wawasan kependidikan islam
tersebut.
B.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas, maka
dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
1.
Apa
pengertian tujuan pendidikan?
2.
Apa saja
hadis yang menerangkan tentang tujuan pendidikan?
3.
Bagaimana
tujuan pendidikan yang sesungguhnya?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Tujuan pendidikan
Tujuan merupakan
sesuatu suasana ideal yang ingin diwujudkan. Secara umum pendidikan dapat
diartikan sebagai suatu metode untuk mengembangkan ketrampilan, kebiasaan, dan
sikap yang diharapkan dapat seseorang menjadi lebih baik. Menurut Dr. Zakiyah Darajat bahwa Tujuan Pendidikan
islam secara keseluruhan yaitu pribadi seseorang yang menjadi insane kamil yang
artinya manusia utuh rohani maupun jasmani dapat hidup dan berkembang secara
wajar dan normal karena tawakalnya kepada Allah SWT. Jadi, Tujuan pendidikan
ialah suatu factor yang sangat penting dalam pendidikan, karena tujuan
merupakan arah yang ingin dicapai dalam pendidikan.Tidak dapat
dipungkiri kalau tujuan pendidikan itu menyangkut tujuan hidup. Pendidikan
dikembangkan dalam konteks membantu perkembangan manusia memiliki kecakapan
untuk bertahan hidup, melaksanakan tugas kehidupan, yang sering disebut tujuan
fungsional dan tujuan praktis, yang meliputi skill, keterampilan, dan
kecakapan. [1][1]
Tujuan harus bersifat stasioner
artinya telah mencapai atau meraih segala yang diusahakan. Dalam ajaran islam,
seluruh aktivitas manusia bertujuan meraih tercapainya insane yang beriman dan
bertaqwa. Dengan demikian, apabila anak didik telah beriman dan bertakwa
artinya telah tercapai tujuannya. Apabila dikaitkan dengan pendidikan islam
yang bertujuan mencetak anak didik yang
beriman, wujud dari tujan itu adalah akhlak anak didik. Adapun akhlak
anak didik itu mengacu pada kurikulum yang diterapkan dalam pendidikan yang
dilaksanakan di bergabai lembaga, baik lembaga pendidikan formal maupun
nonformal.[2][2]
Untuk mewujudkan tujuan-tujuan
pendidikan harus memiliki lembaga pendidikan yang berkualitas dengan dilengkapi
oleh sumber daya pendidik yang kompeten. Dalam kehidupan sehari-hari, indicator
tercapainya tujuan pendidikan islam adalah mencetak anak didik yang mampu
bergaul dengan sesama manusia dengan baik dan benar serta mengamalkan amar
ma’ruf nahi munkar kepada sesama manusia. Anak didik yang telah dibina dan
digembleng oleh pola pendidikan islam adalah anak didik yang sukses dalam
kehidupan karena ia memiliki kemampuan dan kemauan yang kuat untuk menjalani
kehidupan berbekal ilmu-ilmu keislaman yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. [3][3]
Algazhali melukiskan tujuan
pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di
dalamnya yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan
pembersihan jiwa dengan maksud dibalik itu membentuk individu-individu yang
ditandai dengan sifat-sifat utama dan takwa. Dengan ini pula keutamaan itu akan
merata dalam masyarakat.
Hujair AH Sanaky menyebut istilah
tujuan pendidikan islam dengan visi dan misi pendidikan islam. Menurutnya,
bahwa pendidikan islam telah memiliki visi dan misi yang ideal , yaitu rahmatan
lil’alamin. Selain itu, sebenarnya konsep dasar filosofis pendidikan islam
lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multi dimensional, yaitu
pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia , atau lebih
khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun
kehidupan manusia yang makmur, dinamis, harmonis, dan lestari. Sebagaimana
diisyaratkan oleh allah dalam al-qur’an.
Munzir hitami berpendapat bahwa
tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia biarpun dipengaruhi
oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau keinginan-keinginan lainnya. Ini
bila dilihat dari ayat-ayat Al qur’an ataupun hadis yang mengisyaratkan tujuan
hidup manusia yang sekaligus menjadi tujuan pendidikan.[4][4]
Tujuan pendidikan islam
yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang dirangkum dan disimpulkan oleh Athiyyah
al-Abrasyi dalam kitabnya al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Falasifatuha
merupakan tujuan pendidikan yang mengarah pada tujuan akhirat dan dunia, tujuan
akhirat bahwa tujuan pendidikan islam diarahkan dan diorientasikan pada
kehidupan untuk beramal dan mendekatkan pada Tuhan, jadi tujuan pendidikan bisa
dikatakan untuk jangka panjang, namun demikian juga pendidikan jangka pendek
yang ada di dunia ini juga diperhatikan. Jadi tujuan pendidikan yang ada di
dunia ini bagaimana manusia dapat menjalani hidupnya dengan baik dengan
mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak untuk memperoleh dan meraih
tujuan jangka panjang yaitu yang ada di akhirat kelak. Dengan begitu manusia
mendapat dua kebahagiaan yang diperoleh di dunia dengan menjalani kehidupan
yang layak dan bahagia dan bisa beramal menurut ajaran agama untuk bekal
kehidupan yang abadi dan selama-lamanya.[5][5]
B. Hadist yang menerangkan Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan hendaknya hanya
untuk menjadi orang yang berilmu, pembelajar, pendengar, dan pecinta ilmu.
Jangan pernah mencapai tujuan yang sifatnya hanya sementara , jabatan, pangkat,
dan kekayaan. Hal ini diisyaratkan dalam hadis-hadis berikut:
قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: كُنْ
عَالِمًا اَو مُتَعَلِّمًا اَو مُسْتَمِعًا اَو مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا
فَتُهْلِكَ (رواه البيهقي)
Artinya : rasulullah saw bersabda “
jadilah engkau orang yang berilmu (pandai) atau orang yang belajar, atau orang
yang mendengarkan ilmu atau yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi
orang yang kelima, maka kamu akan celaka,”. (HR.Baihaqi) [6][6]
Penjelasan
Hadist diatas menjadi landasan
pendidikan. Hadist …. كُنْ عَالِمًا (jadilah
ahli ilmu ) memerintahkan untuk memilih jalan ilmu, pencari ilmu, menjadi
pendengar dan pecinta ilmu, dan dilarang menjadi orang kelima karena akan
menjadi penyebab kehancuran. [7][7]
Hadist tersebut mengajak kita untuk
menjadi orang yang berilmu, atau orang yang mencari ilmu, atau pendengar ilmu,
atau pecinta ilmu. Itulah hakikat tujuan dari pendidikan, yakni memiliki ilmu,
bukan tujuan lain, maksudnya jangan jadi selain dari yang empat tersebut
seperti pemalas, pemenci ilmu, perusak ilmu, dan lain sebagainya. Terlebih jika
tujuan pendidikan diorientasikan untuk memperoleh kekayaan duniawi.
Banyak juga orang yang berfikir
bahwa kekayaan dan jabatan adalah sumber kebahagiaan ada dihati, dan
kebahagiaan dihati adalah ketenangan dalam berdzikir kepada allah swt. Ala
bidzikrillahi tathmainnul qulub’ (ingatlah hanya dengan mengingat Allah, hati
menjadi tenang).
Dengan demikian, kebahagiaan menjadi
tujuan dalam pendidikan, namun tujuan tersebut tidak hanya didunia tetapi juga
kebahagiaan di akhirat. Untuk memperoleh kebahagiaan ini kuncinya adalah ilmu.
Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw:
مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ
بِالعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ الْاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ
اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ (رواه البخارى و مسلم)
Barangsiapa yang menghendaki
kebaikan didunia maka dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan di
akhirat maka dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki keduanya maka dengan
ilmu. (HR.Bukhori-muslim).[8][8]
Selain kebahagiaan didunia yang
diperoleh melalui ilmu, maka tujuan pendidikan akan tercapai jika semuanya
melalui proses belajar seperti sabda Rasulullah saw berikut ini :
عَن ابْنُ عَبَّاس رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ
: قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا
يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَاِنَّمَا الْعِلْمِ بِالتَّعَلُّمِ ...(رواه البخارى)
Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata
Rasulullah saw bersabda “ barangsiapa yang dikehendaki allah menjadi baik, maka
dia akan dipahamkan dalam hal agama. Dan sesungguhnya ilmu itu diperoleh
melalui belajar “ (HR. Bukhori)[9][9]
Penjelasan
Hadis ….. مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ (barangsiapa
yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka dia akan dipahamkan dalam hal agama)
dapat dipahami bahwa orang tersebut akan diberi kebaikan oleh allah . kebaikan
secara social, mental, spiritual, menjadi kunci Allah bagi kebaikan seseorang.
Dengan kata lain, kalau ingin memperoleh kebaikan apapun didunia dan akhirat
jangan jauh-jauh dari agama. Dalam pengertian ini, agama adalah kunci kebaikan
seseorang.[10][10] Agar tidak
jauh-jauh dari agama maka seseorang diwajibkan untuk menuntut ilmu agar tujuan
pendidikan islam dapat terwujud.
Hadis diatas merupakan
pernyataan Allah yang mengandung perintah bahwa siapapun dari manusia yang
menginginkan memperoleh kebaikan,
hendaknya ia mencari ilmu agama. Meningkkatkan pemahamannya tentang
islam. Mengkaji Al-Quran dan As Sunnah
dengan berbagai metode dan pendekatan yang benar. Islam maju karena umatnya kuat dalam ilmu
pendidikan. [11][11]
حد ثنا محمود بن غيلا ن، اخبرنا ابو اسامة، عن الاعمش عن ابى صالح عن ابى
هريرة قال: رسول الله صلى الله عليه و سلم
: من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا الى الجنة"
“Kami diberi berita oleh Mahmud bin Ghailan,
kami diberi berita oleh Abu Usamah dari A’masy dari Abi Shahih, dari Abu
Hurairah, beliau bersabda:“Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang menempuh
jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan jalan baginya ke surga”.
Penjelasan
Telah dikatakan didepan bahwa
pendidikan merupakan suatu usaha dan kegiatan yang sarat dengan tujuan.
Kedudukan tujuan dalam pendidikan cukup menentukan, karena selain memberikan
panduan tentang karakteristik manusia ynag ingin dihasilkan pendidikan,
sekaligus pula memberikan arah dan langkah-langkah dalam melakukan seluruh
kegiatan pendidikan. Tujuan ialah apa yang dicanangkan manusia. Letaknya
sebagai pusat perhatian, dan demi merealisasikannyalah dia menata tingkah lakunya
dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Berbicara tentang tujuan pendidikan,
tidak dapat melepaskan dari tujuan hidup, yaitu tujuan hidup manusia. Sebab
pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara
kelanjutan hidupnya, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. [12][12]
C.
Tujuan Pendidikan
Di Indonesia sendiri
tujuan pendidikan bisa dilihat pada
GBHN, berbagai peraturan pemerintah dan undang-undang pendidikan diantara lain
:
1.
GBHN Tahun 1993, dalam GBHN menjelaskan bahwa sector pendidikan ini
ditujukan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
2.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 1990 tentang
Pendidikan Prasekolah terdapat
pada pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan prasekolah bertujuan untuk membantu
meletakkan dasar kearah perkembangan sikap pengetahuan ketrampilan dan daya
cipta yang diperlukan oleh peserta didik dalam menyesuaikan dir dengan
lingkungannya dan untuk menumbuhkan serta perkembangan selanjutnya.
3.
Peraturan pemerintah RI Nomor 1990 tentang Pendidikan Dasar , terdapat pada
pasal 3 bahwa pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan
dasar peserta didik untuk mengembangkan
kehidupannya sebagai pribadi, masyarakat, warga Negara dan umat manusia.
4.
Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah.
Dalam pendidikan menengah disebutkan pada pasal 2-3 meningkatkan pengetahuan
untuk melanjutan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mengembangkan diri
sejalan dengan pengembangan ilmu, teknologi dan kesenian dan meningkatkan
kemampuan sebagai anggota masyarakat dalam melakukan interaksi dengan
lingkungan social, budaya, dan alam.
5.
Peraturan pemerintah RI Nomor 30 Tahun 1990 tentang Tujuan Pendidikan
Tinggi termuat pada pasal 2 dalam tujuan pendidikan, berbunyi menyiapkan
peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik yang
dapat diterapkan.
6.
Peraturan Pemerintah tentang pendidikan tercantum dalam UU RI Nomor 2 Tahun
1989 tentang pendidikan nasional bahwa bertujuan untuk mencedaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia
seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang
Maha Esa, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta bertanggung
jawab terhadap masyarakat dan bangsa. [13][13]
Dalam Tujuan Pendidikan
di Indonesia, yang dimulai dari tujuan pada GBHN, pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan
menengah, pendidikan tinggi sampai dengan undang-undang pendidikan yang
mempunyai arah yang sama yaitu mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya .
Tingkatan-tingkatan
Tujuan Pendidikan sebagai berikut :
a.
Tujuan Pendidikan Nasional
Dalam perumusan tujuan
pendidikan nasional dinegara kita dalam jangka dua puluh tahun terakhir ini,
ternyata telah mengalami perubahan atau perkembangan tertentu sejalan dengan
perubahan kebijaksanaan politik dan pembangunan nasional. Tingkatan tujuan pendidikan nasional antara lain :
b.
Tujuan Pendidikan Nasional yang berlaku sejaak tahun 1966. Tujuan
Pendidikan Nasional adalah membentuk manusia Pancasilais sejati berdasarkan
ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan UUD 1945 dan isi
UUD.
(Tap. MPRS No.
XXVII/MPRS/1966)
c.
Tujuan Pendidikan Nasional yang berlaku sejak tahun 1973. Bahwa Tujuan
Pendidikan Nasional ialah membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan
membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya. (Tap. MPR No.
IV/MPR/1973)
d.
Tujuan Pendidikan Nasional yang berlaku
sejak tahun 1978. Bahwa Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan atas
Pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
kecerdasan, ketrampilan dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat
menumbuhkan manusia yang membangun dirinya sendiri serta bersama-sama
bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. (TAP. MPRS/IX/MPR/1978) [14][14]
Pendidikan islam
bertujuan membangun karakteranak didik yang kuat menghadapi berbagai cobaan
dalam kehidupan dan telaten, sabar, serta cerdas dalam memecahkan masalah yang
dihadapi. Tujuan pendidikan islam yang telah diuraikan diatas dapat
disistematisasi sebagai berikut :
1)
Terwujudnya insane akademik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
2)
Terwujudnya insane kamil yang berakhlakul karimah.
3)
Terwujudnya insane muslim yang berkepribadian
4)
Terwujudnya insane yang cerdas dalam mengaji dan mengkaji ilmu pengetahuan
5)
Terwujudnya insane yang bermanfaat untuk kehidupan orang lain.
6)
Terwujudnya insan yang sehat jasmani dan rohani
7)
Terwujudnya karakter muslim yang menyebarkan ilmunya kepada sesama manusia.
[15][15]
Tujuan pendidikan islam mempunyai
tujuan pokok atau utama dan tujuan pendukung, dengan kata lain mempunyai
kosentrasi tertentu yang harus ditempuh dan dicapai lebih dahulu sebelum
kosentrasikosentrasi lain. Dalam hal ini al-Abrasyi mengedepankan pencapaian
akhlak yang sempurna sebagai tujuan pendidikan islam.
Jadi tujuan pendidikan islam secara
umum yaitu:
a)
Untuk
membantu pembentukan akhlak yang mulia. Kaum muslimim telah setuju bahwa
pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan isalm, dan bahwa mencapai akhlak yang
sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya.
b)
Persiapan
untuk kehidupan dunia dan kehidupan di akhirat. Pendidikan islam menaruh perhatian
penuh kedua kehidupan itu sebagai tujuan diantara tujuan-tujuan umum yang
dasar, sebab memang itulh tujuan tertinggi dan terakhir pendidikan.
c)
Persiapan
untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan isalm
tidaklah semuanya bersifat agama, akhlak atau spriritual semata-mata, tetapi
menaruh perhatian pada segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan kurikulum dan
aktifitasnya.
d)
Menumbuhkan
ruh ilmiah pada anak didik dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui dan
memungkinkan ia mengkaji ilmu sekedar ilmu.
e)
Menyiapkan
anak didik dari segi profesional, teknis dan perusahaan supaya ia daoat
menguasai profesi tertentu dan teknis tertentu agar dapat mencari rizki. [16][16]
BAB III
KESIMPULAN
DAN PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari semua uraian yang telah dibahas diatas, dapat disimpulkan hal-hal
sebagai berikut :
a.
Semangat
hadis diatas adalah bahwa tujuan ideal pendidikan islam untuk ilmu guna
pembinaan akhlak, penguatan visi, modal kehidupan manusia.
b.
Menyiapkan
untuk hidup didunia dan akhirat
c.
Penguasaan
ilmu dan keterampilan sebagai modal untuk bekerja di dunia, dan mempersiapkan
kehidupan yang lebih bahagia di akhirat.
d.
Tujuan
pendidikan merupakan tujuan hidup juga yaitu mencari kebahagiaan di dunia dan
di akhirat.
B. Penutup
Makalah ini dibuat
supaya para pembaca banyak mengetahui tujuan pendidikan yang sebenarnya. Tujuan
pendidikan ini akan meningkatkatkan kualitas pendidikan di indonesia.
Diharapkan makalah ini dapat digunakan dengan sebaik-baiknya. Selain itu,
makalah ini bisa dijadikan panduan agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara
maksimal.
Penguasaan ilmu
FAIDAH / KEUTAMAAN
1- Allah permudahkan bagi penuntut ilmu jalan ke syurgaNya
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ
اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلىَ الجَنَّةِ
(( Barangsiapa yang menyusuri jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan
permudahkan baginya jalan untuk ke syurga.)) {HR Muslim
2- Malaikat meletakkan sayap menaungi penuntut ilmu dan makhluk-makluk Allah
memohon ampun baginya
. مَن سَلَكَ طَرِيْقًا يَبْتَغِي فِيْهِ عِلْمَاً
سَهَّلَ اللهُ لهُ طَرِيْقَاً إلى الجَنَّة وإنَّ المَلائِكَةَ لَتَضَعُ
أجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ العِلْمِ رِضَاً بِما يَصْنَعُ وَ إنَّ العَالِمَ
لَيَسْتَغفِرُ لهُ مَن في السَّمواتِ ومَن في الأرضِ حَتَّى الحِيْتَانُ في المَاءِ
وفَضْلُ العَالِمِ عَلى العَابِدِ كَفَضلِ القَمَرِ على سَائِرِ الكَوَاكِبِ وإنَّ
العُلَماءَ وَرَثَةُ الأنبِيْاءِ وإنَّ الأنبِيْاءَ لمْ يُوَرِّثُوا دِيْناراً ولا
دِرْهَمَاً وَ إنَّما وَرَّثُوا العِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Barangsiapa yang menyusuri jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan
permudahkan baginya jalan untuk ke syurga. Sesungguhnya Malaikat meletakkan
sayapnya untuk menaungi penuntut ilmu kerana redha atas apa yang dilakukannya.
Sesungguhnya seorang alim itu akan diminta ampun baginya makhluk yang di langit
dan di bumi hinggakan ikan-ikan di laut. Kelebihan seorang alim berbanding
seorang abid ialah ibarat rembulan kepada bintang-bintang yang lain,
Sesungguhnya para ulama ialah pewaris nabi-nabi, dan sesungguhnya nabi tidak mewariskan
dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu, barangsiapa yang
mendapatkannya maka dia telah mendapat satu keuntungan yang besar. ( HR Abu
Daud dan At-Tirmizi)
3- Allah menginginkan kebaikan bagi diri penuntut ilmu
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرا يُفَقِّهْهُ فِي
الدِّيْنِ
Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka Allah akan menjadikan
dia faham dalam bidang agama. (HR Bukhari dan Muslim)
4- Ilmu menjadi amalan yang dapat dijadikan aset di akhirat nanti
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ
ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ
يَدْعُو لَهُ
Apabila matinya seorang anak Adam itu, maka akan terputuslah amalannya kecuali
tiga perkara: sedekah jariah, atau ilmu yang dimanfaatkan dengannya (oleh orang
lain), atau anak soleh yang mendoakannya (HR Muslim)
5- Menuntut ilmu dikira antara ibadah dan jihad.
تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلَّهِ
خَشْيَةٌ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ، وَمدَارَسَتَهُ تَسْبِيحٌ، وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادٌ،
وَتَعْلِيمَهُ لِمَنْ لاَ يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ، وَبَذْلَهُ لأَهْلِهِ قُرْبةٌ،
وَهُوَ الأَنِيْسُ فِي الوَحْدَةِ، وَالصَّاحِبُ فِي الخَلْوَةِ
Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntutnya kerana Allah adalah satu bentuk
ketakwaan, mencarinya adalah ibadah, mengulangkajinya adalah tasbih,
mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya
adalah sedekah, menyampaikannya kepada ahlinya adalah mendekatkan diri kepada
Allah. Dia adalah teman kala keseorangan dan sahabat ketika bersendirian.”
6- Penuntut ilmu tergolong antara mereka yang bebas dari laknat Allah di muka
bumi ini.
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ ومَلْعُونٌ مَا
فِيهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى، وَمَا وَالاَهُ، وَعَالِمًا أَوْ
مُتَعَلِّمًا
Dunia ini adalah dilaknat. Dilaknat apa yang didalamnya kecuali berzikir kepada
Allah Taala dan apa yang menurut kehendakNya, dan orang yang alim atau orang
yang belajar. (HR At-Tirmizi)
7- Penuntut ilmu dianggap sebagai pejuang di jalan Allah.
مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، فَهُوَ فِي سَبِيلِ
اللهِ حَتَّى يَرْجِع
Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia di dalam sabilillah
sehinggalah dia pulang. (HR At-Tirmizi)
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ
اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ
Barangsiapa menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah mudahkan
baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا
سَهَّلَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ
Rasululloh Bersabda : “Barangsiapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka
mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga. [ H.R. Ibnu
Majah & Abu Dawud ]
Sumber : http://www.muslimedianews.com/2015/11/hadits-tentang-menuntut-ilmu-dan.html#ixzz6Gsf5ncXG
Mengendalikan diri\
Hadis Pertama tentang
Kontrol Diri
Makna Kata dalam Hadis
Terjemahan Hadis :
Dari Abu Hurairah r.a.: "Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kuat
bukanlah orang yang (biasa menang) saat bertarung/bergulat, tetapi orang kuat
itu adalah yang (mampu) mengendalikan nafsunya ketika marah." (H.R.
Bukhari dan Muslim)
Kandungan Hadis tentang Kontrol Diri.
Iklan (Tutup)
Setelah membaca terjemahan hadis di atas, ada beberapa makna
yang terkandung untu dapat dipetik sebagai pelajaran bagi kita semua.
a. Islam memberi pengertian yang berbeda tentang siapa orang yang dapat diberi
julukan sebagai orang yang kuat atau tangguh. Mereka bukan yang selalu menang
saat bertarung
berkelahi, atau bergulat.
b. Pentingnya kontrol atau mawas diri ketika meniti kehidupan Di dunia ini,
kita sadari bahwa banyak godaan dan rintangan yang mengelilingi hidup
keseharian kita. Apalagi bagi yang hidup di kota-kota besar yang sering
berhimpitan dengan banyak kepentingan yang berbeda-beda.
c. Kemenangan dan keberhasilan hanya dapat diraih oleh orang orang yang mampu
mengendalikan dirinya, meredam hawa nafsunya saat marah, dan selalu
meningkatkan kesabaran saat ditimpa musibah, masalah, dan duka nestapa
Hadis
Kedua tentang Kontrol Diri
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ
فَلْيَسْكُتْ
Artinya : “Jika kalian marah,
diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).
Hadis
Ketiga tentang Kontrol Diri
لَا
يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
artinya : "Janganlah
salah satu diantara kalian mati, kecuali berprasangka baik terhadap
Allah." (Muslim)
Melawan
Hawa Nafsu
Di dunia ini
hanya ada dua jalan, yaitu jalan kebenaran dan jalan hawa nafsu. Jalan kebenaran
adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah swt., sementara jalan hawa nafsu
merupakan jalan yang diprakarsai oleh setan dan nafsu yang terhujam di dalam
diri masing masing. Keduanya merupakan musuh manusia yang harus diperangi dan
dikendalikan. Melawan hawa nafsu berarti mengikuti jalan Allah swt. dengan
penuh perhitungan dan kesabaran. Itulah sebabnya setiaporang harus memiliki
kontrol diri yang kuat.
Hawa nafsu berarti kecenderungan manusia pada perkara yang disukai dirinya.
Orang yang lebih mengikuti keinginan hati yang buruk atau yang telah diharamkan
oleh hukum syariat, itulah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya. Perbuatan
ini harus dijauhi karena merupakan pangkal kemakslatan, sumber malapetaka, dan
kemungkaran. Orang ang berbuat demikian akan tersesat dari jalan kebenaran dan
dikenai siksa di akhirat kelak. Oleh karena itu, hawa nafsu harus dikekang dan
dikendalikan, Ingat, hanya dikendalikan, bukan mematikan nafsu. Islam
menekankan bahwa nafsu itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dijaga dan
dikendalikan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw yang sangat
menekankan jihad batin, maknawi, atau jihad melawan hawa nafsu.
Rasulullah saw. mengingatkan kita untuk meninggalkan satu peperangan, satu
perjuangan, atau satu jihad yang kecil menuju sebuah perjuangan atau jihad yang
besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Orang yang berperang melawan nafsu,
tampak seperti duduk duduk saja, tidak seperti orang lain yang mungkin bisa
dengan bebas beraktivitas atau berekspresi, tetapi sebenarnya ia sedang membuat
rencana kerja, langkah yang besar, yakni berjihad melawan haw yang bersemayam
di dalam dirinya.
Pada hakikatnya, melawan hawa nafsu atau mujähadah an-nafs itu sangat susah. la
laksana perang melawan diri, sebuah pertarungan yang tiada henti, dan
berlangsung sepanjang ruh bersemayam di badan Berbeda dengan perang melawan
pihak lain karena sasarannya jelas dan tampak dengan jelas pula pihak yang
menang atau sebaliknya yang kalah. Mungkin apabila nafsu itu ada di luar jasad
atau dapat diindra kita akan mudah menekan dan membunuhnya sampai mati, namun
nafsu itu ada dalam diri kita dan mengalir bersama aliran darah serta menguasai
seluruh tubuh. Karena itu, tanpa azzam (tekad kuat) dan kemauan yang
sungguh-sungguh kita pasti dapat dikalahkan, bahkan boleh jadi akan
dipermainkan atau diperalat sesukanya. Nafsu jahat dapat dikenal melalui sifat
keji dan kotor yang ada pada manusia.
Imam Al-Ghazali membagi hawa nafsu menjadi empat bagian, yaitu:
a. Keserakahan nafsu terhadap harta benda. Bersyukurlah apabila menjadi orang
kaya atau jika mempunyai kedudukan dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
banyak orang dan memakmurkan rakyat
b. Nafsu amarah yang akan membutakan hati. Cara terbaik mengendalikannya adalah
berusaha selalu bersabar dalam menghadapi kemarahan dan kezaliman orang lain,
bersikap lapang dada, suka memaafkan, dan bermurah hati.
c. Kesenangan duniawi mendorong nafsu. Manusia selalu diingatkan agar tidak
terjerumus akan kesenangan duniawi karena hal itu akan mendorong nafsu menjadi
liar.
Nafsu syahwat. Setan menggoda manusia melalui berbagai cara antara lain melalui
harta, pasangan, dan takhta (kekuasaan). Akibatnya, tidak sedikit manusia yang
hancur dan rusak kehidupannya karena hanya mencari kesenangan dunia semata
Sejalan dengan itu, beberapa prinsip berikut ini dapat dijadikan sebagai
landasan dalam jihad atau berjuang melawan hawa nafsu menahan atau menyekat
sumber kekuatannya, membebankan nafsu itu dengan ibadah, beribadah semata-mata
mengharapkan ridha-Nya melalui memperbanyak amal shaleh, misalnya rajin
belajar, mencinta pekerjaan, menebarkan kedamaian untuk semua, dan tidak lupa
berdoa meminta bantuan Allah swt. untuk mengalahkannya, karena doa itu salah
satu kunci menuju kesuksesan.
Dapat kita tarik kesimpulan bahwa orang-orang yang sanggup melawan hawa nafsu
adalah mereka yang beriman kepada Allah swt. dan hari akhir. Inilah kekuatan
yang ada dalam diri umat Islam Keyakinan dan prinsip tersebut membuat kita
sebagai umat Islam menjadi golongan yang sanggup untuk menghindari kenikmatan
sesaat demi mendapatkan kebahagiaan jangka panjang yang kekal nan abadi, yaitu
kebahagiaan akhirat.
Sahabat Rasulullah saw. Abdullah lbnu Abbas r.a. mengatakan "Orang-orang
yang ber-mujahadah untuk melakukan ketaatan, maka Allah swt. akan tunjukkan
kepada mereka jalan pahala dan keagungan rahmat-Nya.
Link
Download
Kabar Dunia
Pekan INi
Hasilkan Rp10.400.000 tiap 60 detik
dari komputer Anda
Napas bau? Itu tanda ada parasit di
tubuhmu! Baca disini
Rahasia untuk hilangkan nafas bau,
hanya butuh 2 menit sehari
Orang Lain
Juga Membuka :
- Husnudzan Kepada Allah Swt (Pengertian, Contoh, & 4
Bentuk, Hikmah)
- Penjelasan Surat Al Bayyinah Ayat 5 (Tajwid, Kandungan,
Arti Perkata)
- 4 Kandungan Surat Al An'am Ayat 162-163 + Tajwid, Arti
Perkata
- 12 Ayat (Dalil) Alquran Tentang Ikhlas Beramal &
Beribadah
- 4 Isi kandungan Surat An Nahl Ayat 78 + Tajwid dan
Tafsir
- 4 Hikmah (Kandungan) Surat Az Zariyat Ayat 56,
Kewajiban Beribadah
Cara Mengembangkan Handout
Menjadi Bahan Ajar "Luar Biasa"
Kajian QS Al Anfal Ayat 72
tentang Kontrol Diri (Kandungan, Sikap)
Silahkan berkomentar . .
Emoticon
Kategori
Pencarian
Agama Islam Biologi
Bisnis
Ekonomi
Geografi IPA IPS
Kewirausahaan Kisah Sukses PAI
SMA Pendidikan Penjaskes
PPKn
Sejarah
Sejarah Islam Soal
IPA Soal IPS Sosiologi
Tokoh
Iklan
(Tutup)
DAFTAR
PUSTAKA
Falah, Ahmad. 2010. Hadits
Tarbawi. Kudus: Nora Media Enterprise.
Hamalik, Oemar. 2002. Perencanaan
Pengajaran Berdasarkan Pendekatan system. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hasbiyallah dan Moh
Sulhan. 2015. Hadits Tarbawi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Pidarta, Made. 1997. Landasan
Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Saebani,Beni Ahmad dan
Hendra Akhdiyat. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.
[1][1] Hasbiyallah dan Moh.Sulhan, Hadist Tarbawi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), Hlm. 11.
[2][2]Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2009), hlm. 146.
[3][3] Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, Hlm. 147.
[4][4] Hasbiyallah dan Moh.Sulhan, Hadist Tarbawi, Hlm. 16.
[5][5] Ahmad Falah, Hadits Tarbawi, (Kudus: Nora Media Enterprise, 2010), hlm. 28.
[6][6] Hasbiyallah dan Moh.Sulhan, Hadist Tarbawi, Hlm. 12.
[7][7]Ibid., Hlm. 15.
[8][8] Hasbiyallah dan Moh.Sulhan, Hadist Tarbawi, Hlm. 12.
[9][9] Ibid.,Hlm. 13.
[10][10] Ibid., Hlm. 15.
[11][11] Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, Hlm. 20.
[12][12] Ahmad Falah, Hadits Tarbawi, hlm. 26.
[13][13] Made pidarta ,Landasan Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Hlm. 11.
[14][14] Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan system, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2002), hlm. 123.
[15][15] Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 147.
[16][16]Ahmad Falah, Hadits Tarbawi, hlm. 28.

