Featured Post

                   MAKALAH Sumber Kurikulum guna memenuhi tugas Pengembangan Inovasi Kurikulum Dosen Mata Kuliah...

Thursday, October 29, 2020

makalah hadits tarbawi

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang Masalah

Masalah yang menjadi kegagalan pendidikan hari ini adalah kecenderungan manusia yang melihat pendidikan sebagai tujuan dunia seperti jabatan, pekerjaan, pangkat, dll. Yang umumnya berorientasi dunia. Pengembangan pendidikan islam berkaitan secara langsung dengan ilmu pengetahuan dan metodologi dan perkembangannya.

Pendidikan islam adalah pendidikan yang sengaja didirikan dan diselenggarakan dengan hasrat dan niat (rencana yang sungguh-sungguh) untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-nilai islam, sebagaimana tertuang atau terkandung dalam visi, misi , tujuan, progam kegiatan maupun pada praktek pelaksanaan kependidikannya. Wawasan kependidikan islam dimaksudkan sebagai suatu konsep atau cara pandang pengembang, pengelola dan pelaksana pendidikan dalam mengembangkan dan menyelenggarakan progam dan praktek pendidikan islam dilapangan dengan memperhatikan landasan filosofis , historis dan konteks social budaya, serta perkembangan peserta didik itu sendiri untuk mencapai tujuan pendidikan islam. Para calo sarjana pendidikan islam dituntut untuk memilki dan mengeuasai wawasan kependidikan islam tersebut.

 

B.   Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, maka dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :

1.      Apa pengertian tujuan pendidikan?

2.      Apa saja hadis yang menerangkan tentang tujuan pendidikan?

3.      Bagaimana tujuan pendidikan yang sesungguhnya?

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Tujuan pendidikan

Tujuan merupakan sesuatu suasana ideal yang ingin diwujudkan. Secara umum pendidikan dapat diartikan sebagai suatu metode untuk mengembangkan ketrampilan, kebiasaan, dan sikap yang diharapkan dapat seseorang menjadi lebih baik. Menurut  Dr. Zakiyah Darajat bahwa Tujuan Pendidikan islam secara keseluruhan yaitu pribadi seseorang yang menjadi insane kamil yang artinya manusia utuh rohani maupun jasmani dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena tawakalnya kepada Allah SWT. Jadi, Tujuan pendidikan ialah suatu factor yang sangat penting dalam pendidikan, karena tujuan merupakan arah yang ingin dicapai dalam pendidikan.Tidak dapat dipungkiri kalau tujuan pendidikan itu menyangkut tujuan hidup. Pendidikan dikembangkan dalam konteks membantu perkembangan manusia memiliki kecakapan untuk bertahan hidup, melaksanakan tugas kehidupan, yang sering disebut tujuan fungsional dan tujuan praktis, yang meliputi skill, keterampilan, dan kecakapan. [1][1]

Tujuan harus bersifat stasioner artinya telah mencapai atau meraih segala yang diusahakan. Dalam ajaran islam, seluruh aktivitas manusia bertujuan meraih tercapainya insane yang beriman dan bertaqwa. Dengan demikian, apabila anak didik telah beriman dan bertakwa artinya telah tercapai tujuannya. Apabila dikaitkan dengan pendidikan islam yang bertujuan mencetak anak didik yang  beriman, wujud dari tujan itu adalah akhlak anak didik. Adapun akhlak anak didik itu mengacu pada kurikulum yang diterapkan dalam pendidikan yang dilaksanakan di bergabai lembaga, baik lembaga pendidikan formal maupun nonformal.[2][2]

Untuk mewujudkan tujuan-tujuan pendidikan harus memiliki lembaga pendidikan yang berkualitas dengan dilengkapi oleh sumber daya pendidik yang kompeten. Dalam kehidupan sehari-hari, indicator tercapainya tujuan pendidikan islam adalah mencetak anak didik yang mampu bergaul dengan sesama manusia dengan baik dan benar serta mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar kepada sesama manusia. Anak didik yang telah dibina dan digembleng oleh pola pendidikan islam adalah anak didik yang sukses dalam kehidupan karena ia memiliki kemampuan dan kemauan yang kuat untuk menjalani kehidupan berbekal ilmu-ilmu keislaman yang diridhai Allah dan Rasul-Nya. [3][3]

Algazhali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud dibalik itu membentuk individu-individu yang ditandai dengan sifat-sifat utama dan takwa. Dengan ini pula keutamaan itu akan merata dalam masyarakat.

Hujair AH Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan islam dengan visi dan misi pendidikan islam. Menurutnya, bahwa pendidikan islam telah memiliki visi dan misi yang ideal , yaitu rahmatan lil’alamin. Selain itu, sebenarnya konsep dasar filosofis pendidikan islam lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multi dimensional, yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia , atau lebih khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kehidupan manusia yang makmur, dinamis, harmonis, dan lestari. Sebagaimana diisyaratkan oleh allah dalam al-qur’an.

Munzir hitami berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau keinginan-keinginan lainnya. Ini bila dilihat dari ayat-ayat Al qur’an ataupun hadis yang mengisyaratkan tujuan hidup manusia yang sekaligus menjadi tujuan pendidikan.[4][4]

Tujuan pendidikan islam yang dikemukakan oleh Ibnu Khaldun yang dirangkum dan disimpulkan oleh Athiyyah al-Abrasyi dalam kitabnya al-Tarbiyah al-Islamiyyah wa Falasifatuha merupakan tujuan pendidikan yang mengarah pada tujuan akhirat dan dunia, tujuan akhirat bahwa tujuan pendidikan islam diarahkan dan diorientasikan pada kehidupan untuk beramal dan mendekatkan pada Tuhan, jadi tujuan pendidikan bisa dikatakan untuk jangka panjang, namun demikian juga pendidikan jangka pendek yang ada di dunia ini juga diperhatikan. Jadi tujuan pendidikan yang ada di dunia ini bagaimana manusia dapat menjalani hidupnya dengan baik dengan mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak untuk memperoleh dan meraih tujuan jangka panjang yaitu yang ada di akhirat kelak. Dengan begitu manusia mendapat dua kebahagiaan yang diperoleh di dunia dengan menjalani kehidupan yang layak dan bahagia dan bisa beramal menurut ajaran agama untuk bekal kehidupan yang abadi dan selama-lamanya.[5][5]

B.     Hadist yang menerangkan Tujuan pendidikan

Tujuan pendidikan hendaknya hanya untuk menjadi orang yang berilmu, pembelajar, pendengar, dan pecinta ilmu. Jangan pernah mencapai tujuan yang sifatnya hanya sementara , jabatan, pangkat, dan kekayaan. Hal ini diisyaratkan dalam hadis-hadis berikut:

قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم: كُنْ عَالِمًا اَو مُتَعَلِّمًا اَو مُسْتَمِعًا اَو مُحِبًّا وَلَا تَكُنْ خَامِسًا فَتُهْلِكَ (رواه البيهقي)

Artinya : rasulullah saw bersabda “ jadilah engkau orang yang berilmu (pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu atau yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka kamu akan celaka,”. (HR.Baihaqi) [6][6]

Penjelasan

Hadist diatas menjadi landasan pendidikan. Hadist …. كُنْ عَالِمًا (jadilah ahli ilmu ) memerintahkan untuk memilih jalan ilmu, pencari ilmu, menjadi pendengar dan pecinta ilmu, dan dilarang menjadi orang kelima karena akan menjadi penyebab kehancuran. [7][7]

Hadist tersebut mengajak kita untuk menjadi orang yang berilmu, atau orang yang mencari ilmu, atau pendengar ilmu, atau pecinta ilmu. Itulah hakikat tujuan dari pendidikan, yakni memiliki ilmu, bukan tujuan lain, maksudnya jangan jadi selain dari yang empat tersebut seperti pemalas, pemenci ilmu, perusak ilmu, dan lain sebagainya. Terlebih jika tujuan pendidikan diorientasikan untuk memperoleh kekayaan duniawi.

Banyak juga orang yang berfikir bahwa kekayaan dan jabatan adalah sumber kebahagiaan ada dihati, dan kebahagiaan dihati adalah ketenangan dalam berdzikir kepada allah swt. Ala bidzikrillahi tathmainnul qulub’ (ingatlah hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang).

Dengan demikian, kebahagiaan menjadi tujuan dalam pendidikan, namun tujuan tersebut tidak hanya didunia tetapi juga kebahagiaan di akhirat. Untuk memperoleh kebahagiaan ini kuncinya adalah ilmu. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw:

مَنْ اَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ الْاَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ (رواه البخارى و مسلم)

Barangsiapa yang menghendaki kebaikan didunia maka dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki kebahagiaan di akhirat maka dengan ilmu, barangsiapa yang menghendaki keduanya maka dengan ilmu. (HR.Bukhori-muslim).[8][8]

Selain kebahagiaan didunia yang diperoleh melalui ilmu, maka tujuan pendidikan akan tercapai jika semuanya melalui proses belajar seperti sabda Rasulullah saw berikut ini :

عَن ابْنُ عَبَّاس رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم: مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَاِنَّمَا الْعِلْمِ بِالتَّعَلُّمِ ...(رواه البخارى)

Dari Ibnu Abbas ra. Ia berkata Rasulullah saw bersabda “ barangsiapa yang dikehendaki allah menjadi baik, maka dia akan dipahamkan dalam hal agama. Dan sesungguhnya ilmu itu diperoleh melalui belajar “ (HR. Bukhori)[9][9]

Penjelasan

Hadis ….. مَنْ يُرِدِ الله بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ (barangsiapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka dia akan dipahamkan dalam hal agama) dapat dipahami bahwa orang tersebut akan diberi kebaikan oleh allah . kebaikan secara social, mental, spiritual, menjadi kunci Allah bagi kebaikan seseorang. Dengan kata lain, kalau ingin memperoleh kebaikan apapun didunia dan akhirat jangan jauh-jauh dari agama. Dalam pengertian ini, agama adalah kunci kebaikan seseorang.[10][10] Agar tidak jauh-jauh dari agama maka seseorang diwajibkan untuk menuntut ilmu agar tujuan pendidikan islam dapat terwujud.

Hadis diatas merupakan pernyataan Allah yang mengandung perintah bahwa siapapun dari manusia yang menginginkan memperoleh kebaikan,  hendaknya ia mencari ilmu agama. Meningkkatkan pemahamannya tentang islam.  Mengkaji Al-Quran dan As Sunnah dengan berbagai metode dan pendekatan yang benar.  Islam maju karena umatnya kuat dalam ilmu pendidikan. [11][11]

حد ثنا محمود بن غيلا ن، اخبرنا ابو اسامة، عن الاعمش عن ابى صالح عن ابى هريرة قال:  رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا الى الجنة"

 “Kami diberi berita oleh Mahmud bin Ghailan, kami diberi berita oleh Abu Usamah dari A’masy dari Abi Shahih, dari Abu Hurairah, beliau bersabda:“Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan jalan baginya ke surga”.

Penjelasan

Telah dikatakan didepan bahwa pendidikan merupakan suatu usaha dan kegiatan yang sarat dengan tujuan. Kedudukan tujuan dalam pendidikan cukup menentukan, karena selain memberikan panduan tentang karakteristik manusia ynag ingin dihasilkan pendidikan, sekaligus pula memberikan arah dan langkah-langkah dalam melakukan seluruh kegiatan pendidikan. Tujuan ialah apa yang dicanangkan manusia. Letaknya sebagai pusat perhatian, dan demi merealisasikannyalah dia menata tingkah lakunya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Berbicara tentang tujuan pendidikan, tidak dapat melepaskan dari tujuan hidup, yaitu tujuan hidup manusia. Sebab pendidikan hanyalah suatu alat yang digunakan oleh manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya, baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. [12][12]

C.    Tujuan Pendidikan

Di Indonesia sendiri tujuan pendidikan  bisa dilihat pada GBHN, berbagai peraturan pemerintah dan undang-undang pendidikan diantara lain :

1.      GBHN Tahun 1993, dalam GBHN menjelaskan bahwa sector pendidikan ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.

2.      Peraturan Pemerintah RI Nomor 1990 tentang  Pendidikan Prasekolah  terdapat pada pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan prasekolah bertujuan untuk membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap pengetahuan ketrampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh peserta didik dalam menyesuaikan dir dengan lingkungannya dan untuk menumbuhkan serta perkembangan selanjutnya.

3.      Peraturan pemerintah RI Nomor 1990 tentang Pendidikan Dasar , terdapat pada pasal 3 bahwa pendidikan dasar bertujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar  peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya sebagai pribadi, masyarakat, warga Negara dan umat manusia.

4.      Peraturan Pemerintah RI Nomor 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah. Dalam pendidikan menengah disebutkan pada pasal 2-3 meningkatkan pengetahuan untuk melanjutan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mengembangkan diri sejalan dengan pengembangan ilmu, teknologi dan kesenian dan meningkatkan kemampuan sebagai anggota masyarakat dalam melakukan interaksi dengan lingkungan social, budaya, dan alam.

5.      Peraturan pemerintah RI Nomor 30 Tahun 1990 tentang Tujuan Pendidikan Tinggi termuat pada pasal 2 dalam tujuan pendidikan, berbunyi menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik yang dapat diterapkan.

6.      Peraturan Pemerintah tentang pendidikan tercantum dalam UU RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang pendidikan nasional bahwa bertujuan untuk mencedaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia  seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa. [13][13]

Dalam Tujuan Pendidikan di Indonesia, yang dimulai dari tujuan pada GBHN, pendidikan  prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi sampai dengan undang-undang pendidikan yang mempunyai arah yang sama yaitu mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya .

Tingkatan-tingkatan Tujuan Pendidikan sebagai berikut :

a.       Tujuan  Pendidikan Nasional

Dalam perumusan tujuan pendidikan nasional dinegara kita dalam jangka dua puluh tahun terakhir ini, ternyata telah mengalami perubahan atau perkembangan tertentu sejalan dengan perubahan kebijaksanaan politik dan pembangunan nasional. Tingkatan  tujuan pendidikan nasional antara lain :

b.      Tujuan Pendidikan Nasional yang berlaku sejaak tahun 1966. Tujuan Pendidikan Nasional adalah membentuk manusia Pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang dikehendaki oleh Pembukaan UUD 1945 dan isi UUD.

 (Tap. MPRS No. XXVII/MPRS/1966)

c.       Tujuan Pendidikan Nasional yang berlaku sejak tahun 1973. Bahwa Tujuan Pendidikan Nasional ialah membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan membentuk manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya. (Tap. MPR No. IV/MPR/1973)

d.      Tujuan Pendidikan Nasional yang berlaku  sejak tahun 1978. Bahwa Tujuan Pendidikan Nasional berdasarkan atas Pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, ketrampilan dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusia yang membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. (TAP. MPRS/IX/MPR/1978) [14][14]

Pendidikan islam bertujuan membangun karakteranak didik yang kuat menghadapi berbagai cobaan dalam kehidupan dan telaten, sabar, serta cerdas dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Tujuan pendidikan islam yang telah diuraikan diatas dapat disistematisasi sebagai berikut :

1)      Terwujudnya insane akademik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

2)      Terwujudnya insane kamil yang berakhlakul karimah.

3)      Terwujudnya insane muslim yang berkepribadian

4)      Terwujudnya insane yang cerdas dalam mengaji dan mengkaji ilmu pengetahuan

5)      Terwujudnya insane yang bermanfaat untuk kehidupan orang lain.

6)      Terwujudnya insan yang sehat jasmani dan rohani

7)      Terwujudnya karakter muslim yang menyebarkan ilmunya kepada sesama manusia. [15][15]

Tujuan pendidikan islam mempunyai tujuan pokok atau utama dan tujuan pendukung, dengan kata lain mempunyai kosentrasi tertentu yang harus ditempuh dan dicapai lebih dahulu sebelum kosentrasikosentrasi lain. Dalam hal ini al-Abrasyi mengedepankan pencapaian akhlak yang sempurna sebagai tujuan pendidikan islam.

Jadi tujuan pendidikan islam secara umum yaitu:

a)      Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Kaum muslimim telah setuju bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan isalm, dan bahwa mencapai akhlak yang sempurna adalah tujuan pendidikan yang sebenarnya.

b)      Persiapan untuk kehidupan dunia dan kehidupan di akhirat. Pendidikan islam menaruh perhatian penuh kedua kehidupan itu sebagai tujuan diantara tujuan-tujuan umum yang dasar, sebab memang itulh tujuan tertinggi dan terakhir pendidikan.

c)      Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan isalm tidaklah semuanya bersifat agama, akhlak atau spriritual semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan kurikulum dan aktifitasnya.

d)     Menumbuhkan ruh ilmiah pada anak didik dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu sekedar ilmu.

e)      Menyiapkan anak didik dari segi profesional, teknis dan perusahaan supaya ia daoat menguasai profesi tertentu dan teknis tertentu agar dapat mencari rizki. [16][16]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN DAN PENUTUP

A.    Kesimpulan

Dari semua uraian yang telah dibahas diatas, dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut :

a.       Semangat hadis diatas adalah bahwa tujuan ideal pendidikan islam untuk ilmu guna pembinaan akhlak, penguatan visi, modal kehidupan manusia.

b.      Menyiapkan untuk hidup didunia dan akhirat

c.       Penguasaan ilmu dan keterampilan sebagai modal untuk bekerja di dunia, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih bahagia di akhirat.

d.      Tujuan pendidikan merupakan tujuan hidup juga yaitu mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

B.     Penutup

Makalah ini dibuat supaya para pembaca banyak mengetahui tujuan pendidikan yang sebenarnya. Tujuan pendidikan ini akan meningkatkatkan kualitas pendidikan di indonesia. Diharapkan makalah ini dapat digunakan dengan sebaik-baiknya. Selain itu, makalah ini bisa dijadikan panduan agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal.

 

 

 

 

 

Penguasaan ilmu

FAIDAH / KEUTAMAAN

1- Allah permudahkan bagi penuntut ilmu jalan ke syurgaNya

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلىَ الجَنَّةِ
(( Barangsiapa yang menyusuri jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan permudahkan baginya jalan untuk ke syurga.)) {HR Muslim

2- Malaikat meletakkan sayap menaungi penuntut ilmu dan makhluk-makluk Allah memohon ampun baginya

. مَن سَلَكَ طَرِيْقًا يَبْتَغِي فِيْهِ عِلْمَاً سَهَّلَ اللهُ لهُ طَرِيْقَاً إلى الجَنَّة وإنَّ المَلائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ العِلْمِ رِضَاً بِما يَصْنَعُ وَ إنَّ العَالِمَ لَيَسْتَغفِرُ لهُ مَن في السَّمواتِ ومَن في الأرضِ حَتَّى الحِيْتَانُ في المَاءِ وفَضْلُ العَالِمِ عَلى العَابِدِ كَفَضلِ القَمَرِ على سَائِرِ الكَوَاكِبِ وإنَّ العُلَماءَ وَرَثَةُ الأنبِيْاءِ وإنَّ الأنبِيْاءَ لمْ يُوَرِّثُوا دِيْناراً ولا دِرْهَمَاً وَ إنَّما وَرَّثُوا العِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
 Barangsiapa yang menyusuri jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan permudahkan baginya jalan untuk ke syurga. Sesungguhnya Malaikat meletakkan sayapnya untuk menaungi penuntut ilmu kerana redha atas apa yang dilakukannya. Sesungguhnya seorang alim itu akan diminta ampun baginya makhluk yang di langit dan di bumi hinggakan ikan-ikan di laut. Kelebihan seorang alim berbanding seorang abid ialah ibarat rembulan kepada bintang-bintang yang lain, Sesungguhnya para ulama ialah pewaris nabi-nabi, dan sesungguhnya nabi tidak mewariskan dinar atau dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu, barangsiapa yang mendapatkannya maka dia telah mendapat satu keuntungan yang besar. ( HR Abu Daud dan At-Tirmizi)

3- Allah menginginkan kebaikan bagi diri penuntut ilmu

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ
Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan baginya, maka Allah akan menjadikan dia faham dalam bidang agama. (HR Bukhari dan Muslim)

 4- Ilmu menjadi amalan yang dapat dijadikan aset di akhirat nanti

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
Apabila matinya seorang anak Adam itu, maka akan terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariah, atau ilmu yang dimanfaatkan dengannya (oleh orang lain), atau anak soleh yang mendoakannya (HR Muslim)

5- Menuntut ilmu dikira antara ibadah dan jihad.

تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ فَإِنَّ تَعَلُّمَهُ لِلَّهِ خَشْيَةٌ، وَطَلَبَهُ عِبَادَةٌ، وَمدَارَسَتَهُ تَسْبِيحٌ، وَالْبَحْثُ عَنْهُ جِهَادٌ، وَتَعْلِيمَهُ لِمَنْ لاَ يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ، وَبَذْلَهُ لأَهْلِهِ قُرْبةٌ، وَهُوَ الأَنِيْسُ فِي الوَحْدَةِ، وَالصَّاحِبُ فِي الخَلْوَةِ
Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntutnya kerana Allah adalah satu bentuk ketakwaan, mencarinya adalah ibadah, mengulangkajinya adalah tasbih, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah, menyampaikannya kepada ahlinya adalah mendekatkan diri kepada Allah. Dia adalah teman kala keseorangan dan sahabat ketika bersendirian.”

6- Penuntut ilmu tergolong antara mereka yang bebas dari laknat Allah di muka bumi ini.

‏الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ ومَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرَ اللهِ تَعَالَى، وَمَا وَالاَهُ، وَعَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا‏
Dunia ini adalah dilaknat. Dilaknat apa yang didalamnya kecuali berzikir kepada Allah Taala dan apa yang menurut kehendakNya, dan orang yang alim atau orang yang belajar. (HR At-Tirmizi)

7- Penuntut ilmu dianggap sebagai pejuang di jalan Allah.

مَنْ خَرَجَ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِع
Barangsiapa yang keluar untuk menuntut ilmu, maka dia di dalam sabilillah sehinggalah dia pulang. (HR At-Tirmizi)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ
Barangsiapa menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

 مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ
Rasululloh Bersabda : “Barangsiapa yang menapaki suatu jalan dalam rangka mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga. [ H.R. Ibnu Majah & Abu Dawud ]


Sumber :
http://www.muslimedianews.com/2015/11/hadits-tentang-menuntut-ilmu-dan.html#ixzz6Gsf5ncXG

 

Mengendalikan diri\

Hadis Pertama tentang Kontrol Diri

Hadits Tentang Kontrol diri (Mujahadah an-Nafs)


Makna Kata dalam Hadis

Hadits Tentang Kontrol diri (Mujahadah an-Nafs)


Terjemahan Hadis :
Dari Abu Hurairah r.a.: "Rasulullah saw. bersabda: Orang yang kuat bukanlah orang yang (biasa menang) saat bertarung/bergulat, tetapi orang kuat itu adalah yang (mampu) mengendalikan nafsunya ketika marah." (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kandungan Hadis tentang Kontrol Diri.

Iklan (Tutup)

Setelah membaca terjemahan hadis di atas, ada beberapa makna yang terkandung untu dapat dipetik sebagai pelajaran bagi kita semua.
a. Islam memberi pengertian yang berbeda tentang siapa orang yang dapat diberi julukan sebagai orang yang kuat atau tangguh. Mereka bukan yang selalu menang saat bertarung
berkelahi, atau bergulat.

b. Pentingnya kontrol atau mawas diri ketika meniti kehidupan Di dunia ini, kita sadari bahwa banyak godaan dan rintangan yang mengelilingi hidup keseharian kita. Apalagi bagi yang hidup di kota-kota besar yang sering berhimpitan dengan banyak kepentingan yang berbeda-beda.

c. Kemenangan dan keberhasilan hanya dapat diraih oleh orang orang yang mampu mengendalikan dirinya, meredam hawa nafsunya saat marah, dan selalu meningkatkan kesabaran saat ditimpa musibah, masalah, dan duka nestapa

Hadis Kedua tentang Kontrol Diri

 

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ

Artinya : “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad dan Syuaib Al-Arnauth menilai Hasan lighairih).

 

Hadis Ketiga tentang Kontrol Diri

لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
artinya : "Janganlah salah satu diantara kalian mati, kecuali berprasangka baik terhadap Allah." (Muslim)

Melawan Hawa Nafsu

Di dunia ini hanya ada dua jalan, yaitu jalan kebenaran dan jalan hawa nafsu. Jalan kebenaran adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah swt., sementara jalan hawa nafsu merupakan jalan yang diprakarsai oleh setan dan nafsu yang terhujam di dalam diri masing masing. Keduanya merupakan musuh manusia yang harus diperangi dan dikendalikan. Melawan hawa nafsu berarti mengikuti jalan Allah swt. dengan penuh perhitungan dan kesabaran. Itulah sebabnya setiaporang harus memiliki kontrol diri yang kuat.

Hawa nafsu berarti kecenderungan manusia pada perkara yang disukai dirinya. Orang yang lebih mengikuti keinginan hati yang buruk atau yang telah diharamkan oleh hukum syariat, itulah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya. Perbuatan ini harus dijauhi karena merupakan pangkal kemakslatan, sumber malapetaka, dan kemungkaran. Orang ang berbuat demikian akan tersesat dari jalan kebenaran dan dikenai siksa di akhirat kelak. Oleh karena itu, hawa nafsu harus dikekang dan dikendalikan, Ingat, hanya dikendalikan, bukan mematikan nafsu. Islam menekankan bahwa nafsu itu bukan untuk dibunuh, melainkan untuk dijaga dan dikendalikan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah saw yang sangat menekankan jihad batin, maknawi, atau jihad melawan hawa nafsu.

Rasulullah saw. mengingatkan kita untuk meninggalkan satu peperangan, satu perjuangan, atau satu jihad yang kecil menuju sebuah perjuangan atau jihad yang besar, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Orang yang berperang melawan nafsu, tampak seperti duduk duduk saja, tidak seperti orang lain yang mungkin bisa dengan bebas beraktivitas atau berekspresi, tetapi sebenarnya ia sedang membuat rencana kerja, langkah yang besar, yakni berjihad melawan haw yang bersemayam di dalam dirinya.

Pada hakikatnya, melawan hawa nafsu atau mujähadah an-nafs itu sangat susah. la laksana perang melawan diri, sebuah pertarungan yang tiada henti, dan berlangsung sepanjang ruh bersemayam di badan Berbeda dengan perang melawan pihak lain karena sasarannya jelas dan tampak dengan jelas pula pihak yang menang atau sebaliknya yang kalah. Mungkin apabila nafsu itu ada di luar jasad atau dapat diindra kita akan mudah menekan dan membunuhnya sampai mati, namun nafsu itu ada dalam diri kita dan mengalir bersama aliran darah serta menguasai seluruh tubuh. Karena itu, tanpa azzam (tekad kuat) dan kemauan yang sungguh-sungguh kita pasti dapat dikalahkan, bahkan boleh jadi akan dipermainkan atau diperalat sesukanya. Nafsu jahat dapat dikenal melalui sifat keji dan kotor yang ada pada manusia.

Imam Al-Ghazali membagi hawa nafsu menjadi empat bagian, yaitu:
a. Keserakahan nafsu terhadap harta benda. Bersyukurlah apabila menjadi orang kaya atau jika mempunyai kedudukan dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang dan memakmurkan rakyat
b. Nafsu amarah yang akan membutakan hati. Cara terbaik mengendalikannya adalah berusaha selalu bersabar dalam menghadapi kemarahan dan kezaliman orang lain, bersikap lapang dada, suka memaafkan, dan bermurah hati.
c. Kesenangan duniawi mendorong nafsu. Manusia selalu diingatkan agar tidak terjerumus akan kesenangan duniawi karena hal itu akan mendorong nafsu menjadi liar.
Nafsu syahwat. Setan menggoda manusia melalui berbagai cara antara lain melalui harta, pasangan, dan takhta (kekuasaan). Akibatnya, tidak sedikit manusia yang hancur dan rusak kehidupannya karena hanya mencari kesenangan dunia semata

Sejalan dengan itu, beberapa prinsip berikut ini dapat dijadikan sebagai landasan dalam jihad atau berjuang melawan hawa nafsu menahan atau menyekat sumber kekuatannya, membebankan nafsu itu dengan ibadah, beribadah semata-mata mengharapkan ridha-Nya melalui memperbanyak amal shaleh, misalnya rajin belajar, mencinta pekerjaan, menebarkan kedamaian untuk semua, dan tidak lupa berdoa meminta bantuan Allah swt. untuk mengalahkannya, karena doa itu salah satu kunci menuju kesuksesan.

Dapat kita tarik kesimpulan bahwa orang-orang yang sanggup melawan hawa nafsu adalah mereka yang beriman kepada Allah swt. dan hari akhir. Inilah kekuatan yang ada dalam diri umat Islam Keyakinan dan prinsip tersebut membuat kita sebagai umat Islam menjadi golongan yang sanggup untuk menghindari kenikmatan sesaat demi mendapatkan kebahagiaan jangka panjang yang kekal nan abadi, yaitu kebahagiaan akhirat.

Sahabat Rasulullah saw. Abdullah lbnu Abbas r.a. mengatakan "Orang-orang yang ber-mujahadah untuk melakukan ketaatan, maka Allah swt. akan tunjukkan kepada mereka jalan pahala dan keagungan rahmat-Nya.

Link Download

Kabar Dunia Pekan INi

Mgid

 

Hasilkan Rp10.400.000 tiap 60 detik dari komputer Anda

Olymp Trade

 

Napas bau? Itu tanda ada parasit di tubuhmu! Baca disini

hermuno

 

Rahasia untuk hilangkan nafas bau, hanya butuh 2 menit sehari

hermuno

Orang Lain Juga Membuka :

Facebook Twitter

Cara Mengembangkan Handout Menjadi Bahan Ajar "Luar Biasa"

Kajian QS Al Anfal Ayat 72 tentang Kontrol Diri (Kandungan, Sikap)

Silahkan berkomentar . .
Emoticon

Top of Form

Bottom of Form

Kategori Pencarian

Agama Islam Biologi Bisnis Ekonomi Geografi IPA IPS Kewirausahaan Kisah Sukses PAI SMA Pendidikan Penjaskes PPKn Sejarah Sejarah Islam Soal IPA Soal IPS Sosiologi Tokoh

Iklan (Tutup)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Falah, Ahmad. 2010. Hadits Tarbawi. Kudus: Nora Media Enterprise.

Hamalik, Oemar. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan system. Jakarta: PT  Bumi Aksara.

Hasbiyallah dan Moh Sulhan. 2015. Hadits Tarbawi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pidarta, Made. 1997. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Saebani,Beni Ahmad dan Hendra Akhdiyat. 2009. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.               

 



 



[1][1] Hasbiyallah dan Moh.Sulhan, Hadist Tarbawi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), Hlm. 11.

[2][2]Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2009), hlm. 146.

[3][3] Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, Hlm. 147.

[4][4] Hasbiyallah dan Moh.Sulhan, Hadist Tarbawi, Hlm. 16.

[5][5] Ahmad Falah, Hadits Tarbawi, (Kudus: Nora Media Enterprise, 2010), hlm. 28.

[6][6] Hasbiyallah dan Moh.Sulhan, Hadist Tarbawi, Hlm. 12.

[7][7]Ibid., Hlm. 15.

[8][8] Hasbiyallah dan Moh.Sulhan, Hadist Tarbawi, Hlm. 12.

[9][9] Ibid.,Hlm. 13.

[10][10] Ibid., Hlm. 15.

[11][11] Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, Hlm. 20.

[12][12] Ahmad Falah, Hadits Tarbawi, hlm. 26.

[13][13] Made pidarta ,Landasan Kependidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Hlm. 11.

[14][14] Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan system, (Jakarta: PT  Bumi Aksara, 2002), hlm. 123.

[15][15] Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhdiyat, Ilmu Pendidikan Islam, hlm. 147.

[16][16]Ahmad Falah, Hadits Tarbawi, hlm. 28.