Featured Post

                   MAKALAH Sumber Kurikulum guna memenuhi tugas Pengembangan Inovasi Kurikulum Dosen Mata Kuliah...

Friday, December 4, 2020

 

 

 

 

 

 

 

 

  

MAKALAH

Sumber Kurikulum

guna memenuhi tugas

Pengembangan Inovasi Kurikulum

Dosen Mata Kuliah: Maksum, M. Pd.I

 

 

 

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 4

1.     Anang Anshori                                                NPM :171210196

2.     Muridul Aflahil Irham                                     NPM :171210133

 

 

 

INSTITUT AGAMA ISLAM

MA’ARIF NU METRO LAMPUNG

TAHUN 2019/2020


KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas selesainya makalah yang berjudul  Sumber Kurikulum  . Kami mengucapkan terima kasih kepada bpk. Maksum, M. Pd  yang telah membimbing kami agar dapat menyelesaikan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengalaman bagi para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat kami butuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

                                                                                    Seputih Banyak, 17 Oktober 2019

                                                                                                           

                                                                                                            Ttd           

 

 

                                                                                                                                    Tim Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR....................................................................................................1

DAFTAR ISI..................................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN..............................................................................................3

BAB II PEMBAHASAN..............................................................................................4.

A. Sumber- Sumber Kurikulum................................................................................4

B. Sumber-Sumber Materi Kurikulum......................................................................5

 

BAB III PENUTUP........................................................................................................7

A.    Kesimpulan .........................................................................................................7

 

DAFTAR PUSTAKA            ....................................................................................................8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang

Sumber- sumber kurikulum atau pengembangan kurikulum yang dimana juga saling berkaitan dengan kompenen kurikulum itu, dari dua pembahasan ini mudah-mudahan kita akan lebih memahaminya lagi dan lebih mengerti dari sebelumnya. Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, serta unsur-unsur masyarakat lainnya. Rancangan ini disusun dengan maksud memberi pedoman kepada para pelaksana pendidikan, dalam proses pembimbingan perkembangan siswa, mencapai tujuan yang dicita-citakan oleh siswa sendiri, keluarga, maupun masyarakat.

Strategi pelaksanaan kurikulum memberi petunjuk bagaimana kurikulum itu dilaksanakan di sekolah. Kurikulum dalam pengertian program pendidikan masih dalam taraf niat/ harapan/ rencana yang harus diwujudkan secara nyata di sekolah sehingga mempengaruhi dan mengantarkan anak didik kepada tujuan pendidikan. Maka, alhasil, komponen strategi pelaksanaannya memegang peranan penting. Oleh karena itu, sudah sewajarnya para pendidik dan tenaga kependidikan bidang pendidikan memahami kurikulum serta berusaha mengembangkannya. Maka pada makalah ini penulis akan membahas beberapa sumber-sumber dalam kurikulum.

 

B.  Rumusan Masalah

1.    Apa saja sumber-sumber kurikulum?

2.    Apa saja sumber-sumber dan materi kurikulum?

 

C.  Tujuan Penulisan

1.    Mengetahui sumber-sumber kurikulum.

2.    Mengetahui sumber-sumber dan materi dari kurikulum.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.  Sumber- Sumber Kurikulum

Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan dalam suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Dalam kurikulum terintegrasi filsafat, nilai-nilai, pengetahuan, dan perbuatan pendidikan. Kurikulum disusun oleh para ahli pendidikan/ ahli kurikulum, ahli bidang ilmu, pendidik, pejabat pendidikan, serta unsur-unsur masyarakat lainnya

Beberapa sumber atau landasan yang menjadi inti penyusunan kurikulum. Pengembangan kurikulum pertama bertolak dari pekerjaan dan kehidupan orang dewasa. Karena sekolah mempersiapkan anak bagi kehidupan orang dewasa, kurikulum terutama isi kurikulum diambil dari kehidupan orang dewasa. Para pengembang kurikulum mendasarkan kurikulumnya atas hasil analisa pekerjaan dan kehidupan orang dewasa.

Dalam pengembangan selanjutnya, sumber ini menjadi luas meliputi semua unsur kebudayaan.

a.    Manusia adalah makhluk yang berbudaya, hidup dalam lingkungan budaya, ia harus mempelajari budaya, maka budaya menjadi sumber utama isi kurikulum. Budaya ini mencakup semua disiplin ilmu yang telah ditemukan dan dikembangkan para pakar, nilai-nilai adat istiadat, perilaku, benda-benda, dan lain-lain.

b.    Sumber lain penyusunan kurikulum adalah anak. Dalam pendidikan atau pengajaran, yang belajar adalah anak. Pendidikan atau pengajaran bukan memberikan sesuatu kepada anak, melainkan menumbuhkan potensi-potensi yang telah ada pada anak. Anak menjadi sumber kegiatan pengajaran, ia menjadi sumber kurikulum.

Ada tiga pendekatan terhadap anak sebagai sumber kurikulum yaitu;

1)   kebutuhan siswa,

2)   perkembangan siswa,

3)   serta minat siswa.

Jadi, ada pengembangan kurikulum bertolak dari kebutuhan-kebutuhan siswa, tingkat-tingkat perkembangan siswa, serta hal-hal yang diminati siswa.

c.    Hal lain yang menjadi sumber penyusunan kurikulum adalah nilai-nilai. Pertanyaan pertama yang muncul dalam kurikulum yang berdasarkan nilai adalah : Apakah yang harus diajarkan di sekolah ? Ini merupakan pertanyaan tentang nilai. Nilai-nilai apakah yang harus diberikan dalam pelaksanaan kurikulum? Nilai-nilai apa yang digunakan sebagai kriteria penentuan kurikulum dan pelaksanaan kurikulum.

d.   Terakhir yang menjadi sumber penentuan kurikulum adalah kekuasaan sosial-politik. Di Indonesia, pemegang kekuasaan sosial-politik dalam penentuan kurikulum adalah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang dalam pelaksanaannya dilimpahkan kepada Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Pada pendidikan dasar dan menengah, kekuasaan penyusunan kurikulum sepenuhnya ada pada pusat, sedangkan pada perguruan tinggi rektor diberi kekuasaan untuk menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan dalam penyusunan kurikulum.

Pendidikan atau pengajaran bukan memberikan sesuatu kepada anak, melainkan menumbuhkan potensi-potensi yang telah ada pada anak. Anak menjadi sumber kegiatan pengajaran, ia menjadi sumber kurikulum. Ada tiga pendekatan terhadap anak sebagai sumber kurikulum, yaitu kebutuhan siswa, perkembangan siswa, serta minat siswa.

 Jadi, ada pengembangan kurikulum bertolak dari kebutuhan-kebutuhan siswa, tingkat-tingkat perkembangan siswa, serta hal-hal yang diminati siswa. Beberapa pengembang kurikulum mendasarkan penentuan kurikulum kepada pengalaman-pengalaman penyusunan kurikulum yang lalu. Pengalaman pengembangan kurikulum yang lalu menjadi sumber penyusunan kurikulum kemudian. Hal lain yang menjadi sumber penyusunan kurikulum adalah nilai-nilai.

B.  Sumber-Sumber Materi Kurikulum

Isi kurikulum dapat berasal dari beberapa sumber berikut.

1.    Masyarakat beserta budayanya. Sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup dimasyarakat.

2.    Siswa. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perumusan isi kurikulum dikaitakan dengan siswa, yakni :

a.    kurikulum sebaiknya disesuaikan dengan perkembangan anak;

b.    isi kurikulum sebaiknya mencakup keterampilan, pengetahuan, dan sikap yang dapat digunakan siswa dalam pengalamannya sekarang dan juga berguna untuk menghadapi kebutuhannya pada masa yang akan datang;

c.    siswa hendaknya didorong untuk belajar berkat kegiatannya sendiri dan tidak sekedar penerima pasif apa yang diberikan guru; apa yang dihadapi siswa hendaknya sesuai dengan minat dan berkeinginan siswa.

3.    Ilmu pengetahuan. Isi kurikulum diambil dari setiap disiplin ilmu. Bidang studi yang dipilih yang diajarkan disekolah yang bertujuan memberikan keterampilan akademik agar lulusanya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi akan berbeda dengan sekolah yang mempersiapkan lulusannya yang setiap bekerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 Kesimpulan

Isi atau materi kurikulum harus bersumber pada tiga hal yakni masyarakat beserta budayanya, siswa, dan ilmu pengetahuan. Dalam menentukan isi kurikulum ketiga sumber tadi harus digunakan secara seimbang, apabila salah satu diantaranya terlalu ditonjolkan maka dapat mempengaruhi makna pendidikan.

a.   Masyarakat sebagai Sumber Kurikulum

Sekolah berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup dimasyarakat. Dengan demikian, apa yang dibutuhkan masyarakat harus menjadi bahan perttimbangan dalam menentukan isi kurikulum.

b.   Siswa sebagai Sumber Materi Kurikulum

Tugas dan fungsi pendidikan adalah untuk mengembangkan seluruh potensi siswa, maka tidala heran kalau kebutuhan anak harus menjadi salah satu sumber materi kurikulum.

c.    Ilmu Pengetahuan sebagai Sumber Kurikulum

Isi kurikulum diambil dari setiap disiplin ilmu . para pengembang kurikulum tidak perlu susah-susah menyusun bahan sendiri, mereka tinggal memilih materi mana yang perlu dikuasai oleh anak didik berdasrkan disiplin ilmu sesuai dengan taraf perkembangan anak didik serta sesuai dengan kepentingannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sanjaya, wina.2011.Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta: Prenada Media Group

Hamalik, oemar.2011.Kurikulum dan Pembelajaran.Jakarta: PT Bumi Aksara

Arifin, zainal.2013.Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum.Bandung: PT Remaja Rosdakarya

file:///E:/Makalah%20Pengembangan%20Kurikulum%20_%20An%20Usual%20Diary.html

 

 

google.com, pub-8826646193956220, DIRECT, f08c47fec0942fa0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH

 Pengembangan Pendidikan Islam Dan Pemberdayaan Ummat

Untuk Memenuhi Tugas

Kapita Selekta PAI

Dosen Mata Kuliah: Dr. Siti Makhrusah, M. Pd. I

 

 

 

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 6

ANANG ANSHORI     :171210196

 

 

 

INSTITUT AGAMA ISLAM

MA’ARIF NU METRO LAMPUNG

TAHUN 2018/2019


KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas selesainya makalah yang berjudul  Pengembangan Pendidikan Islam Dan Pemberdayaan Ummat  . Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu. Dr. Siti Makhrusah, M. Pd. I  yang telah membimbing kami agar dapat menyelesaikan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat menambah wawasan dan pengalaman bagi para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat kami butuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.

 

 

 

 

                                                                         Seputih Banyak, 20 Mei 2019

                                                                                                

                                                                                                 Ttd:          

 

 

                                                                                      Tim Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

KATA PENGANTAR............................................................................................ i

DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 3

A.    Latar Belakang............................................................................................................ 3

B.     Rumusan  Masalah....................................................................................................... 3

C.     Tujuan.......................................................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN........................................................................................

2.1.  pengertian pendidikan islam...................................................................................... 4

2.2. dasar pendidikan islam.......................................................................................6

2.3.  Proses Pemberdayaan Umat.......................................................................................7

 

BAB III PENUTUP............................................................................................. 12

A.    Kesimpulan .................................................................................................. 12

 

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 13

 

                        

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.       Latar Belakang Masalah

Pemberdayaan umat merupakan suatu proses yang  berusaha meningkatkan kualitas hidup individu atau sekelompok masyarakat untuk beranjak dari kualitas kehidupan sebelumnya menuju  pada kualitas hidup selanjutnya. Oleh karena itu pemaknaan  pemberdayaan umat mempunyai cakupan yang luas seperti aspek  pendidikan, ekonomi, politik, maupun sosial kebudayaan.

Dalam hubungannya dengan tema di atas, maka secara kuat dipahami bahwa proses pemberdayaan masyarakat dalam hal ini difokuskan pada aspek pendidikan terutama Pendidikan Islam. Pendidikan merupakan perkembangan yang terorganisir dan kelengkapan  dari semua potensi manusia, moral, intelektual maupun jasmani, oleh dan untuk kepribadian individual dan kegunanan masayarakat yang diarahkan untuk menghimpun semua aktivitas tersebut.

 

1.2.       Rumusan Masalah

a.         Apa pengertian pendidikan Islam?

b.        Apa tujuan pendidikan dalam Islam?

c.         Bagaimana proses pemberdayaan umat di Indonesia?

 

1.3.       Tujuan Penulisan

Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Kapita Selekta, selain itu juga untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita tentang pendidikan Islam dalam kaitannya dengan pemberdayaan umat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.       Pengertian Pendidikan Islam

Istilah pendidikan dalam konteks Islam pada umumnya mengacu kepada term al-terbiyah, al-ta’dibdan al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam adalah term al-tarbiyah. Sedangkan term al-ta’dib al-ta’lim jarang digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam.

a)        Istilah al-Tarbiyah

Penggunaan istilah al-Tarbiyahberasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti akan tetapi pengertian dasarnya menunjukan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.

Dalam penjelasan lain, kata al-Tarbiyah berasal dari tiga kata, yaitu : Pertama, rabba-yarbu yang berarti bertambah, tumbuh dan berkembang (Q.S. Ar Ruum / 30:39). Kedua, rabiya-yarba yang berarti menjadi besar. Ketiga, rabba-yarubbu berarti memperbaiki, menguasai urusan, menuntun dan memelihara[[1]]

Kata rabbsebagaimana yang terdapat dalam Q.S. Al-Fatihah 1:2  (alhamdu lil Allahi rabb al-alamin) mempunyai kandungan makna yang berkonotasi dengan istilah al-Tarbiyah. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi (pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah pendidik yang Maha Agung bagi seluruh alam semesta[[2]].

b)       Istilah al-Ta’lim

Istilah al-Ta’limtelah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata ini lebih universal dibanding dengan al-Tarbiyah maupun al-ta’dib. Al-Ta’lim dapat di artikan sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. Argumentasinya didasarkan dengan merujuk pada firman Allah;

Artinya: “Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah :151).

Kalimat wa yu’allimuhum al-kitab wa al-hikmah dalam ayat tersebut menjelaskan tentang aktivitas Rasulullah mengajarkan tilawat al-Qur’an kepada kaum muslimin. Menurut  Abdul Fatah Jalal, apa yang dilakukan Rasul bukan hanya sekedar membuat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah an-nafs (penyucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikamah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui. Oleh karena itu, makna al-ta’limtidak hanya terbatas pada pengetahuan yang lahiriyah akan tetapi mencangkup pengetahuan teoritis, mengulang secara lisan, pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan; perintah untuk melaksanakan pengetahuan dan pedoman untuk berperilaku[[3]].

c)        Istilah al-Ta’dib

Menurut Al-Atas, istilah yang paling tepat untuk menunjukan pendidikan Islam adalah al-ta’dib[[4]]. Al-Ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamka kedalam diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini, pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing kearah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.

Dengan demikian istilah al-Ta’dibmerupakan term yang paling tepat dalam khazanah bahasa Arab karena mengandung arti ilmu, kearifan, keadilan, kebijaksanaan, pengajaran dan pengasuhan yang baik sehingga makna al-Tarbiyah dan al-Ta’lim sudah tercakup dalam term al-Ta’dib.

Terlepas dari perdebatan makna dari ketiga term diatas secara terminology, para ahli pendidikan Islam memberikan batasan yang sangat bervariatif. Diantaranya adalah:

1)        Al-Syaibaniy; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, umat dan alam sekitarnya. Proses tersebut dilakukan dengan cara pendidikan dan pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan profesi di antara sekian banyak profesi dalam umat[[5]].

2)        Ahmad D. Marimba; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pemimpin secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik enuju terbentuknya kepribadiannya yang  utama (insan kamil)[[6]].

3)        Ahmad Tafsir; mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oeleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam[[7]].

Dari batasan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Melalui pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sendiri sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang diyakininya.

 

2.2.       Dasar Pendidikan dalam Islam

Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memeberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam konteks ini, dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang menghantarkan peserta didik kearah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu, dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan hadist (Sunnah Rasulullah).

Dalam pendidikan Islam, Sunah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu :

a)        Menjelaskan system pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Qur’an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat didalamnya. 

b)        Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasullullah bersama sahabat.

Secara lebih luas, dasar pendidikan Islam terdiri dari 6 macam, yaitu; Al-Qur’an, sunnah,qaul al-shahabat, masail al mursalah.’urf, dan pemikiran hasil ijtihad intelektual Islam.

 

2.3.       Proses Pemberdayaan Umat

Dengan melihat kondisi pendidikan pada umumnya dan pendidikan Islam sekarang ini khususnya, bangsa kita Indonesia akan menghadapi masalah besar, yaitu karena anak-anak didik telah menyampingkan urusan moral. Untuk suatu jangka panjangnya, masalah ini akan memberikan pengaruh besar pada sisi manusiawi umat dan bangsa yaitu hilangnya rasa persaudaraan, yang telah begitu membantu dalam membangun peradaban manusia yang saling tolong menolong[[8]].

Manusia diciptakan oleh Allah SWT dalam rangka menjadi khalifah dimuka bumi,hal ini banyak dicantumkan dalam al-Qur’an dengan maksud agar manusia dengankekuatan yang dimilikinya mampu membangun dan memakmurkan bumi serta melestarikannya. Untuk mencapai derajat khalifah di buka bumi ini diperlukan proses yang panjang, dalam Islam upaya tersebut ditandai dengan pendidikan yang dimulai sejak buaian sampai ke liang lahat.

Pendidikan Islam memadukan dua segi kepentingan manusia yaitu keduniaan dan keagamaan. Berbeda dengan pendidikan sekuler yang hanya meninjau pada satu aspek saja, yaitu keduniaan saja dan segala bentuk keberhasilan cenderung dinyatakan dengan jumlah materi yang dimiliki atau jabatan serta pengaruh ditempat individu berada. Akibatnya telah dapat dilihat bahwa kehampaan yang terjadi pada umat Eropa dan Amerika adalah kehampaan spiritual yang sebagai tempat pelariannya ke tempat-tempat hiburan, alcoholism dan bentuk lainnya. Dengan demikian kemajuan pada satu aspek saja dalam kehidupan ini menyebabkan ketimpangan dalam perjalanan hidup manusia yang kemudian akan kembali menjadi permasalahan kemanusiaan khususnya sumber daya manusia.

Dalam Islam sosok manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu lahiriah sebagai tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh. Pembangunan manusia dalam Islam tentunya harus memperhatikan kedua potensi ini. Jika dilihat dari tujuan pembangunan manusia Indonesia yaitu menjadikan manusia seutuhnya, maka tujuan tersebut harus memperhatikan kedua potensi yang ada pada manusia. Namun upaya kearah penyeimbangan pembangunan kedua potensi tersebut selama 32 tahun masa orde baruhanya dalam bentuk konsep saja tanpa upaya aplikasi yang sebenarnya. Telah dimaklumi bahwa pendidikan Islam memandang tinggi masalah SDM ini khususnya yang berkaitan dengan akhlak (sikap, pribadi, etika dan moral).

Kualitas SDM menyangkut banyak aspek, yaitu aspek sikap mental, perilaku, aspek kemampuan, aspek intelegensi, aspek agama, aspek hukum, aspek kesehatan dan sebagainya[[9]]. Ke semua aspek ini merupakan dua potensi yang masing-masing dimiliki oleh tiap individu, yaitu jasmaniah dan ruhaniah. Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek jasmaniah selalu ditentukan oleh ruhaniah yang bertindak sebagai pendorongdari dalam diri manusia. Untuk mencapai SDM berkualitas, usaha yang paling utama sebenarnya adalah memperbaiki potensi dari dalam manusia itu sendiri, hal ini dapat diambil contoh seperti kepatuhan umat terhadap hukum ditentukan oleh aspek ruhaniyah ini. Dalam hal ini pendidikan Islam memiliki peran utama untuk mewujudkannya.

Peningkatan kualitas manusia hanya dapat dilakukan dengan perbaikan pendidikan[[10]]menyatakan ada beberapa ciri umat atau manusia yang berkualitas, yaitu :

1.        Beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, serta berakhlak mulia dan berkepribadian.

2.        Berdisiplin, bekerja keras, tangguh dan bertanggung jawab.

3.        Mandiri, cerdas dan terampil.

4.        Sehat jasmani dan rohani.

5.        Cinta tanah air, tebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial.

Generasi yang berkualitas yang akan disiapkan untuk menyongsong dan menjadi pelaku pembangunan pada era globalisasi dituntut untuk meningkatkan kualitas keberagamaannya (dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan agama yang tetap bertumpu pada iman dan aqidah).

Untuk mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang berkualitas, ditetapkan langkah-langkah dalam pembinaan pendidikan agama yaitu :

1.        Meningkatkan dan menyelaraskan pembinaan perguruan agama dengan perguruan umum dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi sehingga perguruan agama berperan aktif bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

2.        Pendidikan agama pada perguruan umum dari tingkat dasar sampai dengan perguruan tinggi akan lebih dimantapkan agar peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME serta pendidikan agama berperan aktif  bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.        Pendidikan tinggi agama serta lembaga yang menghasilkan tenaga ilmuan dan ahli dibidang agama akan lebih dikembangkan agar lebih berperan dalam pengembangan pikiran-pikiran ilmiah dalam rangka memahami dan menghayatiserta mampu menterjemahkan ajaran-ajaran agama sesuai dan selaras dengan kehidupan umat[[11]].

Sementara itu, dalam upaya pemberdayaan potensi umat dapat diklasifikasikan pada tiga arah :

1.        Upaya pemberdayaan potensi umat harus dimulai dari pemberdayaan pendidikankeluarga. Konsep “Brain development ” menjelaskan bahwa system penserabutan otak manusia sangat ditentukan oleh kontak manusia pada tiga tahun pertama kehidupannyadi bumi. Semakin banyak gejala alam yang dapat ditangkap anak pada tiga tahun pertama usia mereka, maka akan merangsang pertumbuhan sistem serabut-serabut otak,yang berarti akan berdampak tingginya kecerdasan anak di masa mendatang. Olehkarena itu pemberdayaan potensi ummat harus dilakukan sejak awal kelahiran. Selainitu, orang tua harus bertanggungjawab terhadap perilaku gizi yang proposional, dan juga mengkondisikan agar anak mengalami proses perkembangan secara proporsional.

2.        Institusi pendidikan merupakan arah pemberdayaan potensi umat yang selanjutnyasetelah keluarga. Menjadi tanggung jawab pihak sekolah dalam hal pertumbuhan anak selanjutnya baik fisik, kecerdasan intelektual, kreativitas dan perkembangan kecerdasanemosional, bahkan tumbuhnya kecerdasan spiritual secara optimal. Padahal pendidikankita belum mampu melaksanakan tugas ini. Untuk itulah sudah saatnya institusiPendidikan melakukan berbagai upaya inovasi dengan landasan bahwa pemberdayaan potensi umat perlu memperkecil peran tumbuhnya cara berpikir linier (yang masihmenjadi tekanan pendidikan sekarang), mengapa demikian karena sesunguhnya bumidan seisinya selalu mengalami perubahan-perubahan yang begitu cepat yang selalutidak linier, begitu juga seharusnya konsep pendidikan Islam. Berarti untuk  pemberdayaan potensi umat harus selalu diarahkan kepada berkembangnya kreativitasumat. Agar maksud ini bisa dicapai maka kemampuan ketrampilan dan seni harus menjadi bagian integral dari kurikulum pendidikan. Menurut penulis, instistusi Pendidikan Islam sudah saatnya melakukan upaya-upaya inovasi dalam bidang pendidikan, bukan secara tambal sulam melainkan secara menyeluruh dan mendasar.Kita membutuhkan satu revolusi di bidang pendidikan, dan menggeser serta mengubah paradigma yang keliru. Paradigma yang keliru dan mendasar sekali adalah selama ini bahwa “ belajar untuk sekolah bukan untuk hidup”, harus dirubah dengan “belajar bukan untuk sekolah (non scholae) tetapi belajar untuk hidup (sed vitae discimus)”. Kurikulum di sekolah harus mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan diumat dengan demikian peserta didik akan lebih memahami kondisi umat.Sekolah janganlah terisolasi dari umat, apa yang dipelajari hendaknya berguna bagi kehidupan peserta didik dalam umat dan didasarkan atas masalah masyarakat. Dengan demikian peserta didik akan lebih serasi dipersiapkan sebagai warga masyarakat[[12]].

3.        Arah pemberdayaan selanjutnya adalah di umat dengan cara meningkatkanrasa tanggungjawab terhadap terwujudnya bangsayang memiliki peradaban dan moral tinggi. Hubungannya dengan proses pendidikan selama ini sikap umat belum atau tidak kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang ditentukan oleh pihak sekolah. Umat mengikuti apa saja yang ditentukan sekolah, tanpa mempertanyakan secara kritis apa manfaat dari semuanya itu, ditinjau dari pencapaian tujuan pendidikan. Sekolah menentukan kurikulum dan silabus, sekolah menentukan metode pembelajaran, sekolah menentukan ulangan, ujian, kelulusan sampai dengan pakaian bahkan sepatu seragam sekolah, ini adalah beberapa contoh yang seharusnya umat ikut andil dan bertanggungjawab terhadap keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan. Disinilah sebenarnya letak pemberdayaan masing-masing potensi umat (keluarga, sekolah, dan masyarakat) untuk bersama-sama mengkompromikan bagaimana seharusnya sistem pendidikan yang akan diterapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1.       Kesimpulan

Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Melalui pendekatan ini, ia akan dapat dengan mudah membentuk kehidupan dirinya sendiri sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang diyakininya.

Dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang menghantarkan peserta didik kearah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu, dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan hadist (Sunnah Rasulullah).

Dalam Islam sosok manusia terdiri dua potensi yang harus dibangun, yaitu lahiriah sebagai tubuh itu sendiri dan ruhaniyah sebagai pengendali tubuh. Pembangunan manusia dalam Islam tentunya harus memperhatikan kedua potensi ini. Jika dilihat dari tujuan pembangunan manusia Indonesia yaitu menjadikan manusia seutuhnya, maka tujuan tersebut harus memperhatikan kedua potensi yang ada pada manusia.

 

3.2.       Saran

Kami menyadari bahwa makalah ini tidak dapat mewakili secara keseluruhan dari permasalahan pendidikan Islam dalam proses pemberdayaan umat. Untuk itu, bagi yang ingin lebih memahami tentang permasalahan yang telah kami uraikan di atas, kami sarankan untuk mencari sumber-sumber lain sebagai referensi tambahan selain dari yang telah kami paparkan dalam makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

al-Attas, Muhammad Nuquib. 1994. Konsep Pendidikan Islam (Terj. Haidar Bagir). Bandung : Mizan

Al-Syaibani, Omar Muhammad Al-Thoumy. 1979. Falasafah Pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

An-Nahlawi, Abdurrahman. 1992. Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam. Bandung : CV. Diponegoro.

Djaafar. 2001. Pendidikan Non Formal Dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan. Padang : Penerbit FIP UNP.

Djohar. 2003. Pendidikan Strategig Alternatif Untuk Masa Depan. Yogyakarta: Lesfi.

Jalal, Abdul Fatah. 1988. Azaz-azaz Pendidikan Islam (Terj. Harry Noer Ali). Bandung: CV. Diponegoro.

Marimba, Ahmad D. 1989. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Al-Ma’arif.

Nasution, S. 2004. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Shaleh, A. R. 2000. Pendidikan Agama dan Keagamaan : Visi, Misi dan Aksi. Jakarta: Gemawindu Pancaperkasa.

Tafsir, Ahmad. 1992. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya.

 

 


 



[1].Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung : CV. Diponegoro,1992), hlm. 31

 

[2] Omar Muhammad Al-Thoumy  Al-Syaibani, Falasafah Pendidikan Islam,  (Jakarta: Bulan Bintang,1979), hlm. 41

 

[3]  Abdul Fatah Jalal, Azaz-azaz Pendidikan Islam,Terj. Harry Noer Ali, (Bandung: CV. Diponegoro, 1988), h. 29-30

 

[4]  Muhammad Nuquib al-Attas, Konsep Pendidikan Islam, Terj. Haidar Bagir, (Bandung : Mizan, 1994), hlm. 60

 

[5][Omar Muhammad Al-Syaibaniy, Op.Cit, hlm. 399

 

[6]  Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif 1989), hlm. 19

 

[7]  Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hlm. 32

 

 

[8]  Djohar, Pendidikan Strategig Alternatif Untuk Masa Depan, (Yogyakarta: Lesfi, 2003), hlm. 41

 

[9]  Djaafar, T. Z., Pendidikan Non Formal Dan Peningkatan Sumber Daya Manusia Dalam Pembangunan, (Padang : Penerbit FIP UNP, 2001), hlm. 2

 

[10]  A. R . Shaleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan : Visi, Misi dan Aksi. (Jakarta: Gemawindu Pancaperkasa, 2000), hlm. 205

 

[11]  Ibid, hlm 206

 

[12]  Nasution, S, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), hlm. 154